Tren Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Yovie Wicaksono - 6 November 2019
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Tren kekerasan terhadap perempuan dan anak dari tahun ketahun mengalami perubahan, terlebih saat ini telah dipengaruhi oleh gaya hidup, sehingga jenis, modus, serta kelompok yang rentan sudah berbeda. Oleh karenanya sebagai pendamping dituntut update dalam mengidentifikasi kasus.

“Kalau dulu misalnya anak laki-laki tidak terlalu beresiko, sekarang sangat berresiko juga karena predator anak itu juga ada dimana-mana. Yang seharusnya anak-anak itu dilindungi itu menjadi persoalan juga, misalnya di boarding school, di panti, bahkan ketika anak itu dirumah dalam pengasuhan kerabat,” ujar Ketua Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung, Winny Isnaini, Selasa (5/11/2019).

Mengenai kelompok rentan, menurut Winny di setiap wilayah akan berbeda. Sehingga setiap kabupaten kota bisa mendefinisikan kerentanan berdasarkan pengalaman dalam penanganan kasus.

“Kelompok rentan ada dari anak keluarga yang bercerai, anak dari Pekerja Migran Indonesia (PMI), anak berpacaran itu sebenarnya juga rentan mengalami kekerasan seksual, lalu kerentanan bisa muncul dari situasi keluarga dan juga lingkungan,” ujarnya.

“Kami selama ini membuat tiga kelompok, satu kerentanan dari personality anak, keluarga dan lingkungan. Tiga ini kita bikin checklist,” tandasnya.

Winny mengatakan, maka sebetulnya analisis kerentanan atau kerawanan yang membuat anak menjadi korban, terutama korban kekerasan seksual itu harus lebih dikembangkan, karena berbicara mengenai layanan korban kekerasan tidak akan tuntas seratus persen.

“Karena trauma itu akan membayangi seluruhnya, bahkan pada korban-korban tertentu trauma bisa memunculkan dia menjadi pelaku. Akhirnya siklus kekerasan tidak berhenti,” imbuhnya.

Menurut Winny, pemerintah harus melakukan pencegahan-pencegahan pada kelompok rentan yang sifatnya lebih individual, tidak hanya pencegahan secara umum yang bentuknya sosialisasi atau edukasi.

“Sosialisasi dan edukasi itu tetap penting agar semua orang tau, tetapi mencermati dari penanganan kasus, kita akan bisa mengidentifikasi siapa anak-anak yang rentan, itu yang kemudian disasar agar kerentanannya itu ditutupi pelan-pelan, dipenuhi kebutuhannya sehingga kerentanan itu benar-benar minimalis dan dia tidak akan jadi korban,” ujarnya.

Terlebih, hal tersebut membutuhkan pendanaan yang cukup besar dan lintas sektor, karena satu anak bisa memiliki banyak kerentanan, sehingga perlu kerja ekstra untuk membuat anak-anak tidak menjadi korban. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.