Terjadi Peningkatan Prevalensi Kanker di Tahun 2018

Yovie Wicaksono - 20 August 2019
Menteri Kesehatan Nila Moeloek. Foto : (Fajar)

SR, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat telah terjadi peningkatan prevalensi kanker yang cukup signifikan yaitu sebesar 28 persen pada tahun 2018. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya lebih kuat dalam mendorong implementasi Program Penanggulangan Kanker Nasional terutama upaya promotif dan preventif melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

“Penyakit kanker adalah salah satu penyakit tidak menular yang perlu diperhatikan bersama. Hal ini dikarenakan beban epidemologi dan beban ekonomi yang tinggi,” kata Menkes Nila Moeloek, Selasa (20/8/2019).

Berdasarkan Globocan 2018, di Indonesia jumlah kasus baru kanker adalah 348.809 kasus dengan estimasi kematian sebanyak 207.210 jiwa. Kanker terbanyak pada wanita adalah kanker payudara dengan insidens sebanyak 42,1/100 ribu penduduk, diikuti oleh kanker leher rahim dengan insidens sebanyak 23,4/100 ribu penduduk.

“Sedangkan pada pria, kanker terbanyak adalah kanker paru dengan insidens sebanyak 12,4/100 ribu penduduk, diikuti oleh kanker kolorektal dengan insidens sebesar 12,1/100 ribu penduduk,” kata Nila.

Ketua Komite Nasional Penanggulangan Kanker (KPKN), Soehartati Gondhowiardjo mengatakan penyebab kanker bermacam-macam, mulai dari genetik, gaya hidup, sampai lingkungan. “Perlu upaya-upaya yang melibatkan semua tingkatan sistem kesehatan dari tingkat regional hingga nasional, pemerintahan, organisasi, dan komunitas untuk menjangkau seluruh populasi,” katanya.

Kematian akibat kanker dan rasio mortalitas terhadap insidensi yang tinggi di Indonesia disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Kementerian Kesehatan memperkirakan bahwa lebih dari 70 persen pasien kanker didiagnosis pada stadium lanjut.

Keadaan ini disebabkan karena masih rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terkait kanker, masih banyak penderita yang mencari perawatan tradisional dan alternatif, kurangnya perlindungan finansial, kurangnya pengetahuan tentang gejala umum dan tanda-tanda kanker di kalangan masyarakat.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyikapi hal tersebut adalah melalui pendekatan kesehatan masyarakat. Pendekatan tersebut difokuskan pada intervensi perubahan perilaku melalui penerapan Hidup CERDIK yakni Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress.

Nila meyakini, dengan kerja sama semua pihak dan dukungan dari masyarakat Program Penanggulangan Kanker di Indonesia akan berjalan dengan baik dan optimal. “Marilah kita budayakan tentang pentingnya pencegahan dan deteksi dini kanker dengan perilaku CERDIK untuk mencegah kanker,” katanya. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.