Sambut Ramadan, Begini Tradisi Masyarakat Kampung Ngaglik

Yovie Wicaksono - 1 April 2022

SR, Surabaya – Megengan atau tradisi menjelang Ramadan masih dilakukan sebagian orang berdarah Jawa. Salah satunya di Kampung Ngaglik Surabaya. 

Megengan sendiri merupakan bahasa Jawa yang artinya menahan. Megengan juga biasa disebut unggahan, yang berarti naik. Makna dua kata tersebut adalah bersyukur dan berdoa sebelum naik atau memasuki bulan suci Ramadan.

“Megengan ini sebagai ungkapan rasa syukur dan sukacita dari masyarakat Ngaglik dalam menyambut bulan Ramadan. Yakni dengan berbagi rezeki. Biasanya dilakukan sebelum Ramadan,” kata Ketua RW 6 di Jalan Ngaglik DKA Surabaya, Suroso, Kamis (31/3/2022).

Dalam tradisi megengan, ada sejumlah makanan khas yang disajikan. Salah satunya apem. Jajanan kue tradisional ini merupakan hidangan wajib megengan.

Menurut Suroso, apem diambil dari kata affan atau afwan (Bahasa Arab) yang berarti maaf atau pengampunan. Sehingga, masyarakat menganggap apem sebagai simbol meminta ampun kepada Tuhan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

“Apem memiliki makna simbol yang sederhana. Karena dibuat dari bahan yang sangat sederhana,” papar Suroso.

Adapun bahan dasar yang digunakan untuk membuat kue apem adalah tepung beras, tape singkong, santan dan gula. Adonan apem dicetak dengan cetakan kemudian dikukus. Sebagian masyarakat memilih untuk menggoreng kue tersebut usai dikukus.

“Biasanya, kue ini dibikin saat selamatan di rumah, lalu dibagikan bersama orang terdekat jelang Ramadan,” pungkas Suroso. (ra/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.