Rumah dan Sekolah Masih Belum Menjadi Tempat Aman Bagi Anak

Yovie Wicaksono - 30 December 2019
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur mengatakan, rumah dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak justru tak jarang menjadi tempat terjadinya kasus kekerasan terhadap anak.

“Berdasarkan catatan di tahun 2019 yang perlu diperhatikan adalah rumah dan sekolah masih menjadi tempat yang tidak aman bagi anak, sehingga penguatan keluarga dan pengasuhan terhadap anak sangat diperlukan,” ujar Sekretaris LPA Jatim, Isa Anshori.

Data yang dihimpun LPA Jatim mencatat, selama 2019 sebanyak 90 orang melapor langsung. Sedangkan yang dihimpun dari media massa di Jatim baik cetak maupun online sebanyak 268 kasus. Terjadi penurunan kasus kekerasan terhadap anak di Jatim, dimana pada 2018 sebanyak 131 pengaduan langsung dan 333 dari pemantauan media massa.

Dari data tersebut, 80 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di rumah dan 13 kasus terjadi di sekolah. Sementara 56 kasus terjadi di jalanan, 11 kasus di lahan kosong dan sebanyak 67 kasus temuan tidak disebutkan lokasi kejadiannya.

Kekerasan seksual masih menjadi jenis kekerasan terhadap anak tertinggi di Jatim, dimana pada 2018 terdapat 143 kasus dan 135 kasus pada 2019. Disusul dengan anak berhadapan hukum (ABH) pada 2018 sebanyak 92 kasus dan 58 kasus pada 2019, kemudian hak asuh anak pada 2018 sebanyak 55 kasus dan 50 kasus pada 2019.

Jenis kekerasan terhadap anak lainnya yang terjadi pada 2019 diantaranya adalah kekerasan fisik (44), psikis (3), eksploitasi ekonomi atau trafficking (5), pendidikan (3), Napza (18), pembunuhan (11) dan penelantaran (23).

Sementara itu, terjadi peningkatan jumlah “pelaku” anak langsung dari tahun 2018 sebanyak 503, menjadi 567 di tahun 2019, ada peningkatan sekitar 14 persen. Namun dalam jumlah korban terjadi penurunan sekitar 14 persen dari 471 tahun 2018 menjadi 408 di tahun 2019.

Oleh karenanya, pihak LPA Jatim mendorong sekolah agar menjadi sekolah yang ramah terhadap anak dan hal tersebut merupakan sebuah keharusan bagi pemerintah, sehingga sekolah bisa menjadi rumah kedua anak untuk tumbuh kembang dengan baik.

Selain itu, program penguatan guru dalam pembelajaran yang memahami keragaman dan kebutuhan anak perlu digalakkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan Jatim maupun kabupaten kota.

“Hal lain yang patut diperhatikan adalah lingkungan antara rumah dan sekolah, pemerintah diharapkan melalui aparaturnya seperti kepolisian, Satpol PP ataupun Linmas, bisa ditempatkan didaerah yang sering menjadi lalu lintas anak, sehingga dapat mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak,” katanya.

LPA Jatim juga menyimpulkan bahwa setiap hari terjadi satu kekerasan terhadap anak sepanjang 2019.

Selain itu, Surabaya juga menjadi penyumbang terbanyak kejadian kekerasan terhadap anak di Jawa Timur, yakni sekitar 28 persen atau 97 kasus. Kemudian disusul Tulungagung 20 kasus, Sidoarjo dan Mojokerto 16 kasus. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.