Puncak Kemarau Diprediksi Agustus, Pemprov Jatim Siapkan 3.800 Sumur Bor

Rudy Hartono - 8 April 2026
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak

SR, Surabaya – Sebanyak 3.800 sumur bor atau sumur resapan disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) untuk mengantisipasi bencana kekeringan di daerah Jatim.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jatim beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menggelar rapat koordinasi penanganan dampak hidrometeorologi dan potensi bencana musim kemarau di Surabaya pada Selasa (7/4/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas 1 Juanda sebelumnya memprediksi, terjadi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dengan gelombang kering diperkuat adanya Indian Ocean Dipole (IOD) di bulan Agustus 2026.

“Mungkin diinterpretasikan sebagian orang adalah super El Nino. Tetap intinya ada intensitas yang mungkin lebih tinggi, puncaknya terjadi Agustus,” kata Emil Dardak, Selasa.

Emil Dardak mengatakan, hampir seluruh daerah di Jawa Timur memiliki titik kerawanan kekeringan yang sama. Terutama, daerah yang menjadi lumbung padi. “Ini juga akan terpengaruh dan merata di sebelah Timur Banyuwangi juga lumbung pangan kita. Di Pantura ada Lamongan, Mataraman ada Ngawi, Ponorogo, Madiun jadi relatif tersebar dan semuanya punya kerawanan untuk kekeringan,” ujarnya.

Dia juga menyebut, musim kemarau akan melanda serentak pada Agustus, tetapi dampaknya diprediksi sudah bisa dirasakan mulai Juni. Sementara itu, masa panen di Jatim terjadi pada April hingga Mei.  Agar kondisi air mencukupi, Emil Dardak mengatakan, masa tanam harus dipercepat sebelum memasuki puncak kemarau.

Namun tantangannya, setelah panen tidak dapat langsung digunakan untuk ditanam lagi karena karena tanah membutuhkan waktu untuk istirahat, pemulihan unsur hara, dan pengolahan kembali agar kembali subur.

Untuk itu, Emil Dardak menyebut, Pemprov Jatim mengatur strategi agar masa tanam lebih cepat menggunakan kombinasi transplantasi lewat media tanam dan benih dengan estimasi waktu yang harus presisi.

“Bagaimana varietas kemudian alternate with an drying system digunakan untuk optimalisasi terkait dengan penggunaan air, tentu ditambah,” katanya.

Karena masa tanam membutuhkan suplai air yang mencukupi, maka Pemprov Jatim tengah mempersiapkan 3.800 sumur bor dan sebagian dam juga siap dioperasikan di berbagai daerah terutama yang rawan kekeringan.

Menurut Emil, 2.000 sumur bor sudah masuk tahap pengerjaan di dua tahun terakhir. Tahun 2026, Pemprov Jatim mengejar pembangunan 1.800 sumur bor untuk mengantisipasi kekeringan.

“Tetapi mayoritas semua sudah kita sudah ada dam di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, di Bojonegoro. Difungsikan semaksimal mungkin untuk mengantisipasi situasi kekeringan ini,” pungkasnya. (*/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.