Plt Bupati Subandi Meriahkan Wayang Gagrak Porongan Seri “Wahyu Ketentreman”

Rudy Hartono - 16 June 2024
Plt Bupati Sidoarjo Subandi (tengah) berfoto bersama para dalang wayang kulit Gagrak Porongan di Balai Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu (15/6/2024)

SR, Sidoarjo – Plt Bupati Sidoarjo Subandi ikut hadir menyaksikan wayang kulit Gagrak Porongan yang diselengarakan  di Balai Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Sabtu (15/6/2024) malam.

Diterangkannya wayang kulit Gagrak Porongan sejatinya salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten sidoarjo yang sarat dengan berbagai makna. Karena itu Pemkab Sidoarjo mendukung penuh acara wayang kulit Gagrak Porongan yang digelar di 12 titik atau 12 seri di Kabupaten Sidoarjo.

Wayang kulit yang digelar di Desa Candi Negoro merupakan titik kedua. Kali ini menghadirkan dalang Ki Rohmat Hadi yang membawakan lakon “Wahyu Katentreman”.

Selain Plt Bupati Sidoarjo Subandi, acara gelaran wayang kulit itu juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Sidoarjo Tirto Adi MPd, Kabid Guru dan Tenaga Pendidikan Slamet Riyadi, Kabid Kebudayaan Sukartini, Camat Wonoayu Imam Mukri, Lurah Candi Negoro, Forkopimda Kecamatan Wonoayu, dan para dalang pagelaran 12 titik.

Adapun lakon “Wahyu Katentreman” yang dituturkan Ki  Rohmat Hadi, menceritakan tentang negara Amartapura yang dipimpin raja bijaksana, Prabu Puntadewa atau dikenal juga Prabu Yudistira, yang merupakan kakak tertua dalam Pandawa.

Dikisahkan, kerajaan Amartapura tengah mendapat  berbagai cobaan dari Tuhan yang Maha Kuasa berupa penyakit yang  mengakibatkan kematian, pengangguran tinggi dan juga krisis pangan karena gagat panen.

Di tengah musibah atau pagebluk itu, tiba-tiba datanglah seorang wanita cantik dan sakti mandra guna, Endang Purborini. Ia datang ditemani salah seorang punakawan, Bagong. Dalam lawatannya ke Amartapura, Purborini minta bertemu dengan Raden Janaka atau Arjuna (putra ketiga dari Pandawa).

Bukannya disambut sebagai kenalan baru, namun justru terjadi salah paham dan memicu pertengkaran berujung perkelahian antara Purbarini dengan  putra-putra Pandawa. Dalam kekisruhan itu, datanglah Prabu Krisna, yang titisan Dewa Wisnu yang ‘mahatahu’.

Menyelesaikan konflik itu, Prabu Krisna membuka rahasia kelemahan Endang Purbarini kepada Janaka. Krisna mengatakan kepada Janaka jika ingin mengalahkan Purbarini, maka Janaka harus bisa memeluk mesra Purbarini.

Dalang Ki Rohmat Hadi

Mendapat nasihat Prabu Krisna, seketika Janaka melaksanakan arahan itu. Janaka turun ke medan laga, bukannya bertarung tetapi Janaka merangkul mesra Purabarini. Saat dipeluk Janaka, ternyata Purbarini berubah wujud. Sejatinya Purbarini adalah sebuah pusaka yang dikenal sebagai pusaka “Pasopati”, yang dalam kisah  Mahabarata, Pasopati itu adalah  anak panah sakti pemberian Dewa Siwa.

Dengan mendapatan pusaka Pasopati, maka kerajaan Amarta seakan mendapatkan “Wahyu Katentreman” (kedamaian). Segala musibah berangsur-angsur hilang dan kehidupan warga kembali normal, tentram, damai, gemah lipah loh jinawi, murah sandang dan pangan.

“Filosofi dari cerita ini supaya kita jangan sampai melupakan adat budaya agar kita selalu dalam Rahmat Tuhan Yang Mahaesa,”tutur Ki Rohmad Hhadi, sang dalang.

Setelah pagelaran wayang di Desa Candi Negoro, berikutnya masih ada 10 titik lagi gelaran wayang kulit “Gagrak Porongan”.  Berikut 10 jadwal gelaran wayang  kulit yang diagendakan:

  1. 21 Juni. Dalang Ki Surono Tawaar, di Desa Kedondong, Kecamatan Tulangan
  2. 13 Juli. Dalang Ki Bambang Sugio, di Desa Wilayut, Kecamatan Sukodono
  3. 19 Juli. Dalang Ki Ken Hata/Ki Satriyo, di Desa Urang Agung, Kecamatan Sidoarjo
  4. – Juli . Dalang Ki Sigit Harimurti, di Desa Rangkah, Kecamatan Sidoarjo Kota
  5. 3 Agustus. Dalang Ki Hadiyono, di Desa Kedung Sukodani, Kecamatan Balong Bendo
  6. 10 Agustus. Dalang Ki Suwaji, di Desa Kedung Peluk, Kecamatan Candi
  7. 24 Agustus. Dalang Ki Surono Gondo Taruno, di Desa Pabean, Kecamatan Sedati
  8. 31 Agustus. Dalang Ki Didik Iswandi, di Desa Wage, Kecamatan Taman
  9. 6 September. Dalang Ki Joko Supriyanto, di Desa Waru, Kecamatan Waru
  10. 8 November. Dalang Ki Johan Suilo, di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong (*/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.