Penanganan Narkotika dengan Pemidanaan Dinilai Tidak Efektif

Yovie Wicaksono - 26 July 2019
Diskusi dan bedah buku Mengupas Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Narkoba sebagai Upaya Kampanye Support Don't Punish di Surabaya, Kamis (25/7/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Penanganan narkotika selama ini, masih dianggap mengedepankan punishment, berupa pemidanaan daripada pendekatan berbasis kesehatan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh penulis buku Menggugat Perang Terhadap Narkoba, Patri Handoyo dalam diskusi dan bedah buku Mengupas Upaya Pemerintah dalam Penanggulangan Narkoba sebagai Upaya Kampanye Support Don’t Punish di Surabaya, Kamis (25/7/2019).

“Kami berharap, pendekatan narkotika kedepan itu melalui pendekatan kesehatan masyarakat, rehabilitasi, berbasis bagaimana mengakomodir persoalan kesehatan masyarakat. Bukan lagi pendekatan yang mengedepankan punishment,” ujar salah satu pendiri Rumah Cemara ini.

Patri mengatakan, penanganan narkotika yang mengedepankan punishment harus diubah karena tidak efektif lagi.

“Ini tidak efektif, cara pendekatannya harus diubah, tidak lagi memerangi narkotika, tapi mengakui bahwa narkotika ini sebagai komoditas, kemudian pemerintah mengendalikan proses produksi, peredaran, hingga pemakaiannya,” imbuhnya.

Patri menegaskan, bukan berarti melegalkan namun mengendalikan. Artinya, dengan dikendalikan, orang-orang yang bisa mengkonsumsi narkotika mendapatkan pengawasan, setidaknya dengan medis, seperti dokter yang meresepkan berdasarkan kondisi kesehatan.

Salah satu dampak pelarangan narkotika adalah munculnya narkoba-narkoba jenis baru, seperti ganja sintetis. Selain itu juga munculnya sindikat kejahatan yang menguasai narkotika.

“Dampak pelarangan ini adalah munculnya narkotika jenis baru seperti ganja sintetis dan narkotika akan dikuasai oleh sindikat kejahatan sehingga harganya juga sangat mahal, dari sini akan muncul kriminalitas untuk membiayai konsumsi narkotika itu,” imbuhnya.

Terlebih, selama ini narkotika telah mendapat cap buruk oleh masyarakat. “Padahal kalau tidak ada narkotika/napza, orang-orang yang dioperasi itu pakai apa?,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.