Ogoh-ogoh Naga dan Lembu Meriahkan Kirab Ancak Desa Tubanan Surabaya

Rudy Hartono - 17 October 2025
Warga berkostum ala koboi mengusung ogoh-ogoh lembu jantan saat Kirab Ancak pada Sedekah Bumi Kelurahan Tubanan Surabaya, Minggu (12/10/2025).(foto: nala aura/superradio.id)

SR, Surabaya – Warga Kelurahan Tubanan khususnya warga RW 07, 08, dan  09, punya hari spesial di luar hari raya Idul Fitri atau hari besar agama lainnya. Minggu (12/10/2025) setiap rumah sibuk merapikan rumah dan juga menyiapkan sajian makanan. Mereka siap menerima tamu untuk saling berkunjung dan makan bersama untuk mempererat tali silaturahmi.

Hari itu warga Tubanan menyepakati menyelenggarakan Sedekah Bumi, tradisi tahunan sebagai ungkapan rasa syukur berkat limpahan rezeki kepada Tuhan Yang Mahaesa, sekaligus menjadi pengingat dan penghormatan terhadap leluhur.

Gunungan buah-buah yang dililit ular mainan, mendapat aplaus warga saat Kirab Ancak pada Sedekah Bumi Kelurahan Tubanan Surabaya, Minggu (12/10/2025). (foto: nala aura/superradio.id)

Minggu pagi, warga berbondong-bondong menuju Balai RW dengan mengenakan berbagai kostum, properti dan membawa ancak yang mengusung berbagai tema. Warga melakukan Kirab Ancak dimulai dari Balai RW dan berakhir di Punden Tubanan.

Ancak yang dibuat oleh anak muda Tubanan kaya kreasi untuk menarik perhatian penonton. Ada gunungan sayur dan buah,  kemudian ada ogoh-ogoh berbentuk tikus, sapi, naga, dan hanoman.  Suasana semakin semarak dan heboh lantaran setiap grup diiringi sound horeg yang menyuarakan lagu-lagu dengan beat dan vibe yang membawa peserta kirab berjoget ria.

Penampilan peserta Kirab Ancak kian semangat dan atraktif ketika penonton memberi aplaus. Di antara penonton terdapat tamu  asal Jepang, Kiyoki Takeshi tampak antusias mengabadikan setiap atraksi. Kiyoki mengaku senang berkesempatan menyaksikan langsung salah satu kekayaan tradisi warga Indonesia, khususnya di Kelurahan Tubanan Surabaya.

Warga mengusung ogoh-ogoh naga saat Kirab Ancak pada Sedekah Bumi Kelurahan Tubanan Surabaya, Minggu (12/10/2025). (foto: nala aura/superradio.id)

Lelah pawai keliling kelurahan, peserta kirab atau warga lainnya dipersilakan memasuki pelataran rumah warga yang siap menerima tamu, walau sekedar melepaskan dahaga dan lapar setelah lelah berpanas-panas berpawai atau menonton Kirab Ancak. “Semakin banyak tamu yang datang kami tambah senang karena akan semakin banyak rezeki,” tutur Teguh, warga RT 02 RW 07, yang percaya bahwa keramahan akan membawa keberkahan.

Terkait hari pelaksanaan Sedekah Bumi, Koyum, salah seorang panitia, menjelaskan penentuan tanggal pelaksanaan dilakukan melalui rapat warga, namun biasanya acara selalu digelar pada bulan Oktober. “Pastinya setiap tahun kami akan bikin sedekah bumi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi menjadi bagian dari warga Tubanan dan kegiatannya tidak bertentangan dengan nilai keagamaan,” terang Koyum kepada Super Radio.

Pohon besar menjadi penanda Punden Tubanan yang dulunya kediaman Mbah Simah leluhur babat alas Kelurahan Tubanan. Kain putih yang melilit pada batang pohon diganti setiap tahun oleh warga. (foto: nala aura/superradio.id)

Berkah Kewelasan Mbah Simah

Kirab ancak warga Tubanan keliling kampung yang berakhir di Punden Tubanan. Tradisinya, setiap tahun warga mengganti kain pada pohon di area punden, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Kain diganti seminggu sebelum pelaksanaan Kirab Ancak sebagai simbol penyucian areal punden.

Sejarah punden Tubanan sendiri bermula dari rumah seorang sesepuh desa yang membuka desa Tubanan, bernama Mbah Simah. Dia dikenal sebagai sosok welas asih yang gemar membantu sesama melalui doa dan penyembuhan. Warga kemudian menunjukkan rasa hormat dan syukur dengan membawa hasil bumi ke rumah Mbah Simah setiap panen. Tradisi memberi ‘upeti’ seikhlasnya itu kemudian berkembang menjadi ritual sedekah bumi seperti sekarang.

Warga mengusung ogoh-ogoh Hanuman Si Keran Putih saat Kirab Ancak pada Sedekah Bumi Kelurahan Tubanan Surabaya, Minggu (12/10/2025). (foto: nala aura/superradio.id)

Selain punden Mbah Simah, di sekitar Tubanan juga terdapat punden  berupa sumur asin yang menyimpan kisah masa kolonial. Konon, pada masa penjajahan Belanda, banyak kuda dikubur di sumur tersebut, membuat airnya berubah menjadi asin dan sumur itu tak lagi berfungsi hingga kini. Kejelasan punden itu belum banyak diungkap, namun warga memilih untuk tidak menutup atau mengusiknya agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (mg2/red)

 

 

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.