Musim Hujan, FPRB Dorong Masyarakat Miliki Budaya Tangguh Bencana

Yovie Wicaksono - 22 November 2021
Relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengevakuasi warga saat banjir di Desa Kedungrejo, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (6/3/2019). Foto : (Antara)

SR, Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pada November mayoritas wilayah di Indonesia telah memasuki musim hujan dan akan meluas pada Desember hingga Februari tahun mendatang.

BMKG juga memperingatkan adanya fenomena La Nina yang memengaruhi kondisi musim hujan saat ini, dimana curah hujan bulanan meningkat 20-70 persen di atas normal.

Tingginya curah hujan ini dikhawatirkan dapat semakin memicu terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan puting beliung. Bahkan, rentetan bencana pun telah melanda di sejumlah wilayah belakangan ini.

Maka dari itu, Sekjen Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim, Catur Sudarmanto mengingatkan seluruh pihak untuk lebih waspada.

Ia mengatakan, dalam ilmu kebencanaan terdapat tiga pendekatan untuk mengurangi atau menghadapi suatu risiko ancaman, yakni menjauhkan ancaman, menjauhi ancaman, serta berdamai dengan ancaman.

“Tapi kalau ancaman tersebut berasal dari alam yang tidak bisa dihindarkan, maka kita yang menjauh dari ancaman. Nah berarti masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana harus pindah semua kan, tapi seperti yang kita tahu bahwa Indonesia ini laboratoriumnya bencana. Jadi bencana tetap ada, masyarakat tetap ada, dan risiko tetap ada. Akhirnya kita harus berdamai dengan ancaman,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Darmo ini.

Untuk bisa berdamai dengan ancaman, lanjutnya, maka dimanapun kita berada harus membiasakan budaya tanggap bencana.

“Pertama, kita harus mengenali potensi ancaman bencananya. Setelah itu, kenali tanda-tandanya. Kenali karakternya, baru berikutnya kita melihat ke diri kita atau kapasitas diri kita dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Secara umum, Mbah Darmo mengatakan bahwa kapasitas diri dalam menghadapi bencana itu dapat dilihat dari 5 aspek, yakni mulai dari sisi manusianya sendiri, infrastruktur, ekonomi, sosial politik dan lingkungan alamnya.

“Kapasitas itu kurang lebih adalah segala sesuatu yang membuat kita semakin tangguh, mampu menghadapi ancaman. Setelah kita tau semuanya, baru kita bisa menentukan skala prioritas kegiatan,” sambungnya.

Ia pun mengingatkan bahwa hampir semua potensi ancaman bencana saat akan datang pasti memiliki tanda-tanda, kecuali gempa. Tak hanya itu, semua potensi ancaman bencana juga memiliki karakter berbeda-beda, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

“Misalnya, banjir bandang dan banjir genangan saja karakternya berbeda. Dimana banjir bandang datangnya cepat dan membawa banyak kerusakan, tapi kalau banjir genangan tidak banyak kerusakan infrastruktur tapi secara ekonomi. Maka pendekatannya harus berbeda.

Mbah Darmo mengatakan, apabila tiap orang sudah memahami hal tersebut, maka secara otomatis ini akan menjadi kitab suci tiap individu maupun kelompok untuk menghadapi ataupun mengurangi risiko bencana.

“Jadi goals nya nanti bagaimana penanganan bencana itu menjadi budaya kita masing-masing. Ketika early warning system diaktifkan, semuanya sudah bergerak. Nah untuk bisa seperti itu pasti butuh proses,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.