BMKG Ungkap 4 Faktor Pemicu Banjir Surabaya saat Musim Kemarau
SR, Surabaya – Sebagian besar wilayah Surabaya bagian selatan dan timur dilanda banjir akibat hujan yang terjadi pada Senin (22/6/2026), sekitar pukul 04.30 WIB. Hal ini tentu menimbulkan banyak keluhan masyarakat karena terhambatnya aktivitas seperti berangkat kerja atau sekolah, menimbulkan macet berkepanjangan, sampai banyak dari kendaraan yang mogok. Ditambah lagi, hujan yang turun terjadi setelah musim panas berkepanjangan yang melanda Surabaya beberapa minggu terakhir.
Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda dan Maritim Tanjung Perak mengungkapkan empat faktor yang mendorong terjadinya banjir akibat hujan di tengah musim kemarau.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa hujan yang mengakibatkan banjir disebabkan oleh pola angin konvergensi
Pola itu adalah wilayah pertemuan atau pemusatan massa angin dari dua arah yang berlawanan atau lebih yang mengakibatkan perlambatan kecepatan angin dan memaksa massa udara yang kaya uap air terangkat secara vertikal (konveksi). “Hal itu sehingga memicu pertumbuhan awan hujan lebat yang didukung kondisi atmosfer yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga menengah,” kata Taufiq, Senin.
Situasi itu, menurut dia, menyebabkan terjadinya pertumbuhan awan kumulonimbus yang signifikan dan menghasilkan hujan sedang hingga lebat di wilayah Surabaya. “Meski, Surabaya saat ini telah memasuki musim kemarau, tapi tetap dapat berpotensi terjadi hujan lebat akibat faktor lokal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak, Daryatno, menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan pasang surut di Pelabuhan Tanjung Perak, kejadian genangan pada 22 Juni 2026 dipengaruhi oleh kombinasi curah hujan dan kondisi pasang laut sedang yang menghambat pembuangan air.
Periode tersebut akan terus berlanjut pada 26-30 Juni 2026, dengan terjadi peningkatan bertahap tinggi muka air pasang dari sekitar +1,0 meter hingga +1,4 meter.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan efek backwater pada sistem drainase Kota Surabaya dan memperbesar risiko genangan, terutama apabila bertepatan dengan hujan intensitas sedang hingga tinggi,” ungkap Daryatno.
Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tetap waspada pada periode 28-30 Juni 2026, karena pasang laut mencapai nilai maksimum selama periode prakiraan.
Daryatno memaparkan, ada empat faktor yang mendorong banjir terjadi di beberapa wilayah Surabaya. Keempat faktor itu, antara lain hujan sedang hingga lebat di wilayah Surabaya, backwater effect atau hambatan pembuangan air ke laut saat periode pasang, debit kiriman dari hulu sungai atau saluran yang mengarah ke Kota Surabaya.
“Dengan kata lain, pasang laut pada 22 Juni 2026 berpotensi memperlambat pembuangan air, walaupun dari grafik tidak menunjukkan kondisi pasang maksimum yang sangat tinggi,” katanya.
Tidak hanya itu, periode pasang air laut yang paling perlu diwaspadai antara lain: 28 Juni 2026 akan terjadi pasang sekitar +1,2 meter 29 Juni 2026 akan terjadi pasang sekitar +1,3 meter 30 Juni 2026 akan terjadi pasang sekitar +1,4 m dengan tertinggi pada grafik Bulan Juni 2026.
“Apabila pada hari-hari tersebut terjadi hujan sedang hingga lebat bersamaan dengan jam pasang puncak, maka peluang genangan akan lebih besar dibanding tanggal 22 Juni 2026,” pungkasnya. (*/red)
Tags: Banjir Surabaya, BMKG, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





