GMNI Jatim Refleksikan Marhaenisme di 56 Tahun Wafat Bung Karno

Rudy Hartono - 23 June 2026
Suasana penuh keakraban forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno yang digelar DPD GMNI Jawa Timur di Joglo Simbah, Kabupaten Malang, Minggu (20/6/2026).

SR, Malang – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) se-Jawa Timur menggelar forum refleksi ideologis memperingati 56 tahun wafatnya Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Kegiatan khidmat ini dilaksanakan Minggu (20/6/2026) di Joglo Simbah, Desa Sawah, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

​Dalam suasana diskusi yang hangat dan penuh kekeluargaan, para peserta mendalami strategi gerakan mahasiswa agar tetap adaptif tanpa kehilangan arah ideologis. Salah satu narasumber, Sriadji, senior GMNI,  menggarisbawahi bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh berbeda dengan masa Orde Baru.

“Bentuk tantangan gerakan sekarang berbeda dengan zaman Orde Baru. Dulu ideologi gerakan dibatasi, sedangkan sekarang ruang gerak jauh lebih bebas. Namun kebebasan itu menghadirkan tantangan baru yang harus mampu dijawab oleh kader-kader gerakan,” ujarnya.

Sriaji memaparkan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah peta gerakan secara masif, mulai dari cara masyarakat menerima informasi hingga membentuk opini publik. Dirinya menekankan bahwa kader GMNI Jawa Timur dituntut untuk cepat beradaptasi dengan dinamika ruang digital saat ini.

Tokoh GMNI,  Sriaji menyampaikan paparan dalam forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno yang diselenggarakan di Karangploso, Malang, Jawa Timur, Kabupaten Malang, Minggu (20/6/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

Tantangan Algoritma dan Media Sosial

“Perjuangan hari ini juga ikut dipengaruhi algoritma media sosial. Cara menyampaikan gagasan, membangun kesadaran, hingga mengorganisasi massa menjadi berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi tantangan baru bagi gerakan untuk tetap relevan dan mampu menjangkau masyarakat,” katanya.

​Selain faktor digitalisasi, perubahan mendasar yang sangat krusial juga terlihat pada karakteristik konflik sosial yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia. Jika dahulu musuh bersama terlihat jelas, kini dinamikanya jauh lebih kompleks dan berpotensi memecah belah bangsa dari dalam.

“Pada masa Orde Baru, konflik yang dominan bersifat vertikal antara masyarakat dengan pemerintah. Hari ini situasinya berbeda. Konflik banyak terjadi secara horizontal di tengah masyarakat sendiri, baik karena perbedaan identitas, Motif kebutuhan, maupun pengaruh arus informasi digital. Karena itu, gerakan tidak hanya bertugas mengkritik kekuasaan, tetapi juga membangun kesadaran dan solidaritas di tengah masyarakat,” jelas Sriaji.

Suasana penuh keakraban forum refleksi 56 tahun wafatnya Bung Karno yang digelar DPD GMNI Jawa Timur di Joglo Simbah,. (foto: vico wildan/superradio.id)

Wadah Konsolidasi Internal

​Pandangan tersebut memicu refleksi mendalam bahwa ajaran Marhaenisme harus terus diaktualisasikan agar tidak berhenti sebagai warisan historis atau sekadar bahan kajian ideologis belaka. Para kader yang hadir di Joglo Simbah sepakat bahwa nilai-nilai yang diajarkan Bung Karno tetap menjadi pijakan utama untuk menjawab isu kontemporer. Aktualisasi ini wajib diwujudkan melalui praktik nyata gerakan yang mampu membentengi masyarakat dari polarisasi sosial, bahaya disinformasi, serta ketimpangan yang masih dirasakan rakyat kecil.

Di samping menjadi wadah refleksi Bung Karno, agenda tahunan ini juga berfungsi sebagai sarana konsolidasi internal organisasi se-Jawa Timur. Melalui forum ini, GMNI mengajak seluruh anggotanya untuk menjadikan pemikiran sang Proklamator sebagai kompas dalam menavigasi gerakan yang progresif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Penguatan gerak ideologis ini dinilai penting agar arah perjuangan organisasi tetap konsisten dan murni berpijak pada orientasi kerakyatan.

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menghidupkan api perjuangan nasionalisme. Bagi GMNI se-Jatim, memperingati 56 tahun wafatnya Bung Karno bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang sejarah masa lalu. Kegiatan di Joglo Simbah ini adalah langkah konkret untuk memastikan bahwa semangat Marhaenisme tetap hidup, relevan, dan terus bergerak dalam menjawab tantangan bangsa hari ini serta di masa depan. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.