Mulai Tahun Depan Batik SD-SMP Surabaya Diseragamkan

Rudy Hartono - 24 September 2026
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat memberikan bantuan peralatan sekolah kepada siswa sekolah dari Pemkot Surabaya.  (net)

SR, Surabaya – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi masih menemukan aduan warga soal pungutan pembelian seragam dan meminta Dinas Pendidikan menata ulang seragam SD-SMP negeri di bawah naungan Pemkot Surabaya yang dinilai cukup memberatkan wali murid di sekolah.

Ketimpangan harga seragam menjadi salah satu persoalan yang disoroti. Di beberapa sekolah di Surabaya, harga seragam batik bisa mencapai Rp115 ribu, sedangkan harga di luar sekolah berkisar Rp80.000 hingga Rp90 ribu.

Variasi harga tersebut ditentukan oleh kualitas kain masing-masing seragam. Menurut Eri, kondisi ini dapat menimbulkan ketimpangan sosial di antara siswa, berujung pada eksklusivitas, dan cenderung memberatkan wali murid.

“Kalau kualitas kain beda-beda, nanti siswa dari keluarga tidak mampu mendapat kain yang warnanya berbeda. Akhirnya tidak ada kesetaraan,” kata Wali Kota Eri ketika dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (24/9/2026).

“Padahal, negara ini harus mengusung prinsip “berdiri sama tegak, duduk sama rendah”. Saya ingin semua siswa memakai seragam dengan standar dan kualitas yang sama, yang membedakan hanya identitas nama sekolahnya,” kata bapak dua anak ini.

Pemkot Surabaya telah melarang pihak sekolah membebani siswa dengan penjualan paket seragam. Eri juga meminta pembelian seragam standar nasional, baik putih-merah untuk SD maupun putih-biru untuk SMP, dibebaskan di mana saja.

Sementara itu, seragam identitas sekolah seperti batik akan disamakan untuk seluruh sekolah negeri. “Kalau untuk seragam batik, saya ingin untuk SD sama semua dan untuk SMP juga sama,” kata Wali Kota dua periode tersebut.

Dengan penyamaan tersebut, kesenjangan siswa diharapkan dapat dicegah. “Jadi nanti akan diproduksi secara terpusat agar memiliki motif, warna, dan kualitas yang seragam dengan harga yang murah,” kata Wali Kota Eri.

Dindik Surabaya juga akan melakukan pengawasan penjualan seragam di sekolah. Pemkot akan memastikan harga lebih murah dibandingkan harga pasar retail di Surabaya.

“Saya berharap tidak ada lagi beban finansial yang memberatkan orang tua murid saat memasuki tahun ajaran baru, sekaligus menjaga rasa kebersamaan dan kesetaraan di antara para siswa di Surabaya,” tandas Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Jatim ini.

Menjawab arahan tersebut, Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa marwah sekolah harus dikembalikan sepenuhnya pada fungsi edukasi. Guru tidak lagi bergelut dengan urusan bisnis atau produksi seragam.

“Pak Wali Kota sudah memberikan arahan keras kepada kami dan seluruh pihak sekolah bahwa tidak boleh lagi ada penjualan seragam di lingkungan sekolah,” ujar Febrina. (*/red)

 

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.