Mengutamakan, Bukan Mengasihani: Etika dan Prioritas bagi Penyandang Disabilitas

Rudy Hartono - 19 October 2025
ilustrasi

SR, Surabaya — Pernahkah Anda berada di kendaraan umum dan melihat kursi dengan tanda “prioritas untuk disabilitas”? Kursi itu bukan sekadar simbol kebaikan hati, tapi bentuk penghormatan terhadap hak dasar seseorang.

Sayangnya, masih banyak yang  menganggap memberi tempat duduk kepada penyandang disabilitas hanyalah bentuk belas kasihan—padahal ini soal etika dan kesetaraan.

Menurut Kementerian Sosial RI, etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas dimulai dari kesadaran bahwa mereka tidak butuh dikasihani, tetapi dihormati.

Memberi ruang prioritas, menawarkan bantuan dengan sopan, dan menggunakan bahasa yang tidak merendahkan adalah wujud kecil dari masyarakat yang inklusif.

Sementara itu, laporan UNESCO 2024 menyoroti bahwa fasilitas publik di Indonesia sudah mulai menerapkan prinsip disability friendly, termasuk jalur landai, toilet aksesibel, serta layanan antrean prioritas di bandara dan stasiun. Namun, kemajuan infrastruktur tetap harus diimbangi dengan perilaku sosial yang berempati.

Etika sederhana seperti tidak menatap berlebihan, tidak menyentuh alat bantu tanpa izin, dan berbicara langsung kepada penyandang disabilitas (bukan pada pendampingnya) menunjukkan penghargaan terhadap kemandirian mereka.

Inklusi bukan tentang siapa yang kuat membantu yang lemah, melainkan bagaimana kita saling memahami kebutuhan satu sama lain. Karena menjadi manusia, sejatinya berarti tahu kapan harus melangkah lebih dulu—dan kapan harus memberi jalan. (*/dv/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.