Menyingkap Tabir Kota Lama: Hikayat Bathoro Katong dan Falsafah Jati Diri Ponorogo

Rudy Hartono - 27 July 2026
Makam Bathoro Katong di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Ponorogo – Di jantung Desa Setono, Kecamatan Jenangan, terdapat sebuah kompleks yang menyimpan memori kolektif masyarakat Ponorogo. Tempat ini bukan sekadar pemakaman kuno, melainkan situs cagar budaya yang menjadi saksi bisu transformasi besar wilayah Wengker dari ajaran Hindu-Buddha menuju peradaban Islam.

Dikenal sebagai kawasan “Kota Lama”, kompleks Makam Bathoro Katong tetap tegak berdiri sebagai titik nol berdirinya Kabupaten Ponorogo yang sarat dengan nilai spiritual dan sejarah.

Menjaga kelestarian sejarah,  Haji Sunardi, juru kunci yang telah lama mendedikasikan dirinya di sana, mengisahkan asal-usul tokoh besar ini “Batoro Katung itu nama kecilnya Joko Bituhun. Bathoro Katong juga memiliki nama asli Lembu Kanigoro Beliau adalah putra dari Prabu Brawijaya kelima kerajaan Majapahit,” ungkap Sunardi memulai dengan silsilah keluarga yang agung, Selasa (14/7/2026).

Bathoro Katong meninggalkan kemegahan istana saat kekuasaan Majapahit mulai surut.  Ia diboyong oleh kakaknya, Raden Patah, menuju Kesultanan Demak. Di sanalah Bathoro Katong memulai perjalanan spiritualnya. Ia ditempa dengan ajaran-ajaran Islam sebelum akhirnya menerima misi besar menyebarkan agama Islam dengan melakukan babat alas di wilayah timur Gunung Lawu hingga lereng Gunung Wilis bagian selatan.

Kondisi wilayah sasaran dakwahnya saat itu jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Haji Sunardi menjelaskan bahwa wilayah tersebut mulanya dipimpin oleh seorang penguasa lokal yang arif nan bijak.

“Dulu di sini belum bernama Ponorogo, ada Kadipaten Alokad Mangan yang bernama Wengker yang dipimpin oleh Ki Ketut Suryo Awam atau di Ponorogo terkenal dengan sebutan Ki Ageng Putu,” terangnya. Ki Ageng Putu dikenal sebagai tokoh yang teguh mempertahankan kepercayaan Hindu-Buddha sehingga menolak ajakan untuk memeluk Islam.

Perselisihan ideologi tersebut akhirnya memicu terjadinya konflik fisik demi memperebutkan pengaruh di tanah Wengker. Namun, melalui strategi yang matang dan pendekatan yang lentur, Bathoro Katong berhasil memenangkan persaingan tersebut.

 

 

Batu Gilang di gerbang makam Bathoro Katong

Walhasil beliau yang berdorok katong yang menang. Akhirnya pengker diganti nama Ponoro,” ujar Haji Sunardi menggambarkan momen krusial pergantian identitas wilayah tersebut.

Kemenangan ini bukan sekadar penaklukan wilayah, melainkan lahirnya sebuah filosofi hidup yang mendalam tentang kemanusiaan. Haji Sunardi menguraikan makna nama Ponorogo yang diwariskan oleh sang Adipati.

“Pono itu mengerti. Rogo itu ya badan kita ini ya mungkin maksudnya ngerti karo awake dewe kita itu siapa kita itu dari mana mau ke mana sudah sampai di mana apa yang mau menjadi bekal kita itu kalau saya bisatnya kayak gitu,” tuturnya dengan penuh makna.

Dalam menjalankan roda pemerintahan dan syiar Islam, Bathoro Katong tidak berjuang seorang diri. Ia didampingi oleh figur-figur penting seperti Patih Seloaji dan seorang ulama besar bernama Ki Ageng Mirah. Haji Sunardi menegaskan peran penting sang tokoh utama. Keberhasilan mereka memuncak pada tahun 1496 yang secara resmi ditetapkan sebagai tahun berdirinya Kadipaten Ponorogo.

“Jadi pada dasarnya beliau yang berdorok katong itu cikal bakale Ponorogo juga yang membawa agama Islam di Ponorogo juga adipati pertama atau Bu Pati pertama,”. Ujar sunardi

Situs budaya ini juga menampilkan keunikan arsitektur yang sangat simbolis, seperti adanya tujuh buah gapura berderet. Setiap gapura memiliki filosofi sebagai simbol tahapan perjalanan spiritual manusia menuju titik peristirahatan terakhir. Di antara gapura tersebut, pengunjung dapat menemukan Batu Gilang yang diyakini sebagai tempat meditasi Bathoro Katong, lengkap dengan pahatan tulisan yang menjadi bukti otentik berdirinya kadipaten pada akhir abad ke-15.

Hingga kini, situs Makam Bathoro Katong tetap menjadi pusat kegiatan religi dan budaya yang dinamis bagi masyarakat setempat. Setiap tanggal 1 Suro, ribuan warga memadati area ini untuk menyaksikan tradisi Kirab Pusaka Tumbak Kara Welang yang dibawa dari makam menuju Pendopo Kabupaten. Tradisi ini terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa sang pendiri yang telah meletakkan fondasi identitas lokal Ponorogo.

Situs makam yang kini dikelola secara intensif oleh pemerintah daerah ini terus berfungsi sebagai laboratorium sejarah bagi generasi muda. Dengan keasrian dinding kayu berukir warna merah dan hijau di dalam cungkup utamanya, makam ini menawarkan ketenangan bagi para peziarah yang datang untuk meneladani semangat dakwah sang Adipati. Warisan Bathoro Katong tetap hidup, menjadi pilar kebanggaan dan pengingat akan jati diri bagi setiap insan yang berpijak di bumi Ponorogo. (js/red)

 

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.