Masih Berduka, Deni : PAW Adi Sutarwijono Tidak Terburu-buru
SR, Surabaya – PDI Perjuangan Jawa Timur belum merumuskan terkait posisi kosong penggantian antarwaktu (PAW) mendiang Adi Sutarwijono sebagai ketua DPRD Surabaya.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim Deni Wicaksono mengatakan, saat ini PDI Perjuangan masih dalam masa berkabung. Terlebih, Awi adalah salah satu kader militan yang punya banyak kenangan dengan semua lini.
Disamping itu, pihaknya juga menghormati keluarga mendiang yang masih berduka. “Kalau terkait itu memang kurang pas lah ini kan baru baru saja apa namanya, PDI perjuangan baru berduka. Jadi kita masih belum masuk ke ruang itu,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Ditanya kapan usulan PAW masuk, Deni memilih tak buru-buru. Ia menyebut, putusan tersebut akan diumumkan di saat yang pasti, namun tidak dalam waktu dekat. “Kita tunggulah beberapa saat lagi toh tidak buru- buru terhadap itu. Kami masih menghormati keluarga beliau yang sedang berduka,” sebutnya.
Diberitakan sebelumnya, Ketua DPRD Kota Surabaya Dominikus Adi Sutarwijono meninggal dunia pada Selasa (10/2/2026) malam. Adi tutup usia pada umur 57 tahun usai berjuang melawan penyakit kanker hati yang dideritanya.
Berpulangnya salah satu kader PDI Perjuangan terbaik itu menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Susy Cecilia, menyebut kepergian Awi sebagai kehilangan besar bagi partai dan masyarakat Surabaya.
“Pak Awi adalah sosok yang humble, disiplin, dan taat pada arahan partai. Komunikasi dengan beliau tidak sulit, karena beliau selalu siap 24 jam untuk rakyat dan untuk partai,” ujarnya pelan menjelang misa requiem, Rabu (11/2/2026).
Tak hanya dari partainya. Rasa kehilangan juga dirasakan teman sejawat di bidang legislatif. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bachtiar Rifai mengaku sangat kehilangan sosok sahabat dan pimpinan yang amanah. “Selamat jalan rekan, sahabat, dan pimpinan kami, insya allah surga menantimu, selamat beristirahat di tempat abadi,” ucapnya saat memberi sambutan di penghormatan terakhir, Kamis (12/2/2026).
Bachtiar pun secara khusus menjadi saksi, betapa almarhum sangat bertanggungjawab dengan tugas yang diemban. Baginya, Awi -sapaan akrab Adi Sutarwijono – adalah pemimpin yang amanah dan punya dedikasi tinggi. Bahkan semasa sakitnya, almarhum masih ikut paripurna dan agenda-agenda partai.
“Saya bersaksi beliau ini orang yang bertanggungjawab. Saat sakit, beliau masih hadir rapat dan masih hadir dalam undangan partainya,” ujarnya.
Sementara itu, di sisi religius, ucapan duka juga datang dari tokoh agama katolik Romo A Kurdo Irianto. Dalam khotbahnya, romo menceritakan betapa tulusnya seorang Adi Sutawijono. Sebagai umat katolik, Adi betul-betul mempraktekan nilai-nilai alkitab. Tulus membantu sesama walaupun perjuangannya tak selalu mulus, berdarah hingga terseok.
Kala itu, lanjut romo, Adi yang masih berprofesi jurnalis menjadi garda depan saat demo 1998. Bahkan Adi sempat datang ke gereja, meminta pertolongan sebab membawa pamflet Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan menjadi korban anarkis aparat.
“Saya teringat waktu malam jam 8, tiba tiba mas Adi datang langsung tidur telentang dan mengatakan ‘Romo Tulungen aku’ ternyata baru saja dia dipukuli tentara yang menghalau demonstran, karena di dalam tasnya membawa pamflet PRD,” ujarnya, Kamis, (12/2/2026). (hk/red)
Tags: Adi Sutarwijono, Deni Wicaksono, PAW, pdip, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





