Korban Bertambah, Keracunan MBG Sidoarjo Tak Hanya Santri Ponpes

Rudy Hartono - 2 September 2026
Emil Elestianto Dardak Wagub Jatim saat berbincang dengan Teguh Bayu Wibowo Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Rabu (2/9/2026) dini hari. (net)

SR, Sidoarjo – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendistribusikan sebanyak 2.800 porsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari yang sama saat ditemukannya kasus dugaan keracunan massal, Selasa (1/9/2026). Ribuan porsi makanan tersebut disalurkan ke berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA swasta di wilayah operasional SPPG Kalitengah.

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa dugaan keracunan makanan ini tidak hanya menimpa santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, tetapi juga berpotensi dialami oleh siswa dari sekolah lain penerima pasokan yang sama.

“Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manba’ul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama. SPPG Kalitengah, Tanggulangin,” kata Emil saat memberikan keterangan di Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).

Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat melakukan penyisiran ke sekolah-sekolah penerima porsi MBG dari SPPG Kalitengah. Langkah jemput bola disiapkan guna memastikan seluruh anak yang berpotensi terdampak segera mendapatkan penanganan medis yang optimal.

“Ada daftar sekolahnya, nanti dari Bu Kadinkes bisa menyampaikan kepada teman-teman. Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga ya, TK juga ada,” ujar Emil.

Sejumlah santri dan keluarga mencari informasi mengenai santri yang menjalani perawatan di RSUD Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026). (net)

“Hari ini kita akan cek di sekolah-sekolah itu, ada yang absen enggak? Kalau ada yang absen enggak masuk, alasan sakit ataupun apa, kita akan jemput bola tuh. Karena khawatirnya belum tertangani dengan optimal kalau pengobatan mandiri,” lanjutnya.

Berdasarkan data yang terhimpun, menu MBG yang dibagikan oleh SPPG Kalitengah pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, serta buah apel.

Sejumlah siswa dan santri mengeluhkan gejala mual, pusing kepala, hingga kondisi tubuh lemas pada Selasa malam usai ibadah Maghrib, beberapa jam setelah menyantap hidangan tersebut. Emil meluruskan informasi yang sempat beredar di masyarakat mengenai dugaan konsumsi makanan lain di lingkungan pesantren.

Ia menegaskan bahwa para korban tidak mengonsumsi santapan massal lain di luar menu MBG. “Mengenai makanan yang mana, ada Maulid di pondok pesantren? Enggak, tidak ada makanan lain yang disuguhkan secara massal. Ya kalau jajan sendiri-sendiri lain cerita, tapi secara massal tidak ada,” jelas Emil.

Akibat insiden ini, BGN telah menghentikan sementara seluruh operasional dapur SPPG Kalitengah guna kepentingan investigasi dan pemeriksaan laboratorium sampel makanan. Hingga Rabu (2/9/2026), tercatat sebanyak 431 santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam telah menerima penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Total terdapat sekitar 1.000 santri di pesantren tersebut yang mengonsumsi menu MBG pada hari kejadian. (*/red)

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.