Kepala Dinsos Kediri Kunjungi Wiji Fitriani

Yovie Wicaksono - 21 April 2019
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur mengunjungi Wiji Fitriani. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur mengunjungi pasien sakit jiwa yang sempat viral di media sosial karena diduga menggigit jarinya hingga putus, yakni Wiji Fitriani (28) warga Dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/04/2019).

Wiji Fitriani mendapat perawatan secara langsung dari tim medis puskesmas setempat. Kedua tanganya yang mengalami infeksi terpaksa diperban dan dibersihkan dengan maksud agar luka infeksi yang diderita tidak sampai menyebar.

Kepala Puskesmas Desa Ngadi , Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Rindang Wariha Idana mengatakan, Wiji Fitrianai tercatat sebagai penderita gangguan jiwa (ODGJ) sejak tahun 2005 lalu. Semenjak menderita gangguan jiwa, pihaknya selalu rutin melakukan pendampingan pengobatan kepada yang bersangkutan, termasuk membawanya ke Rumah Sakit Jiwa Lawang, Malang, Jawa Timur, sebanyak tiga kali.

“Kalau menyebutnya orang dengan gangguan jiwa, bahasa medisnya Sefromenia sudah mulai tahun 2005. Kita sudah melakukan pengobatan rutin, termasuk dirujuk ke RSJ Lawang tiga kali pada  2011, 2014, 2017 awal,” ujar Rindang.

Selepas menjalani pengobatan jiwa, pada akhir 2017 lalu Wiji Fitriani mulai melakukan kebiasaan menggigit jari tangannya lalu digosok gosokan ke tanah, hingga mengalami infeksi.

“Waktu itu masih satu jari, karena lukanya sudah membusuk (gangren) harus mendapat penanganan dokter bedah. Jadi kita rujuk ke RSUD Pare. Dua hari disana disarankan untuk amputasi operasi memotong yang busuk. Yang busuk dipotong nanti yang tersisa bagus saja. Malamnya mau operasi itu mbahnya nangis geger akhirnya minta dijemput, ditelpon menolak operasi puskesmas, ditelpon dari rumah sakit akhirnya jam 12 malam kita jemput disana,” ujarnya.

Selepas dari rumah sakit, karena tidak mengkonsumsi  obat secara maksimal, lepas dari penanganan dokter spesialis, lukanya semakin merambat dan perilaku Wiji Fitriani masih tetap sama yakni suka menggigit jari dan menggosok gosokkan  ke tanah. Ia sebenarnya sudah berulang kali menyarankan agar yang bersangkutan secara khusus ditangani oleh dokter spesialis untuk segera dioperasi, namun terkendala izin dari pihak keluarga. Meski demikian, setiap bulanya Wiji Fitriani selalu mengikuti program posyandu jiwa di Puskesmas.

Disamping itu, ragil dari empat bersaudara ini juga mendapatkan perawatan medis berupa pemberian suntik maupun obat sehingga sekarang Wiji Fitriani sudah lancar diajak berkomunikasi. “Sehingga sekarang kalau diajak ngomong sudah bagus, cuman sekarang lukanya ini harus ketemu dokter spesialis. Cuman nggak mau operasi intinya seperti itu,” tandasnya.

Rindang kembali menegaskan, jika luka pembusukan pada jari tangan Wiji Fitriana dikarenakan infeksi. Pembusukan luka  tersebut tidak hanya dialami di bagian tangan dan jari melainkan juga merembet ke bagian kaki. “Bukan dimakan ya mas, digigit. Kalau dimakan kan ditelan. Salah itu, digigit. Sekarang tinggal

dua. Yang kanan masih bagus.” Paparnya.Diketahui selama ini Wiji Fitriani tinggal bersama neneknya bernama Mbah Jira (73). Semenjak lahir Wiji sudah ditinggal ibunya Sarminiwati pergi merantau  bekerja ke Kalimantan, sementara ayahnya pergi ke Tulungagung pasca bercerai. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.