Kenali Penanganan Post Trauma pada Korban Kanjuruhan

Yovie Wicaksono - 15 October 2022

SR, Surabaya – Duka menyelimuti rakyat Indonesia pasca peristiwa Kanjuruhan terjadi pada Sabtu (1/10/2022). Peristiwa tersebut menyebabkan ratusan korban berjatuhan dan duka mendalam. Banyak yang kehilangan orang yang tersayang dan mengalami Post Trauma Stress Disorder (PTSD).

Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana menekankan, tidak semua korban berada di lokasi kejadian mengalami Post Trauma Stress Disorder (PTSD). Meskipun korban melihat kejadian tersebut secara langsung hingga kehilangan orang terdekatnya. 

Menurutnya, PTSD merupakan gangguan stres pasca trauma akan situasi yang menegangkan, menakutkan dan adanya ancaman. PTSD dapat terjadi jika korban mengalami gejala yang menetap dan semakin parah pasca peristiwa itu terjadi. 

“Pada fase 1 bulan memasuki fase gangguan stres akut, kemudian fase 2-3 bulan memasuki gangguan penyesuaian, dan memasuki fase 6 bulan jika gejala yang dialami semakin parah baru dilakukan asesmen untuk dapat dikatakan Post Trauma Stress Disorder (PTSD),” jelas Atika.

Hal yang dirasakan oleh orang yang mengalami Post Trauma Stress Disorder (PTSD) yaitu menilai kapasitas dirinya tidak sepadan dengan situasi yang dihadapi dan cenderung merasa tidak mampu menangani tekanan yang dialami.

Bahkan kondisi seseorang yang mengalami PTSD juga akan mudah terganggu dengan hal-hal kecil yang tidak berkaitan dengan peristiwa traumatis yang pernah ia alami.

“Contohnya, korban yang berada di Stadion Kanjuruhan melihat rerumputan hijau dan apabila korban tersebut mengalami PTSD bertemu rerumputan hijau di taman akan menimbulkan trigger,” imbuhnya.

Perubahan emosi juga dialami oleh orang yang mengalami PTSD, seperti cenderung murung, menarik diri dari lingkungan sekitar, dan numbness. Jika hal tersebut dialami, maka orang tersebut membutuhkan psikofarmakologi atau penanganan secara medis.

Peran orang sekitar, lanjutnya, sangat diperlukan untuk mencegah PTSD semakin parah dengan mendampingi, menjadi pendengar yang baik, dan disarankan untuk berolahraga. 

“Survivor yang ingin cepat pulih dapat melakukan mekanisme koping stres dan jangan merasa sendiri serta tidak masalah jika harus meminta pertolongan,” imbaunya. (*/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.