Kembali ke Titik Nol: Air Mata Suci Dewi Ratih di Pelataran Arca Joko Dolog

Rudy Hartono - 2 July 2026
Dewi Ratih Purwa Ningrat (50) bersama suaminya Sukma Hendra Hermawan jalani prosesi ruwatan di pelataran Arca Joko Dolog, Surabaya, Rabu (1/7/2026). Tampak Dewi membawa foto serta foto kakak kandungnya Sri Pamilih Weise (73) dalam ruwatan itu. (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Di tengah kepulan asap dupa dan lantunan doa yang menggema di pelataran Arca Joko Dolog, Surabaya, pada 1 Juli 2026, seorang perempuan  paruh baya bersimpuh dengan khidmat. Dewi Ratih Purwa Ningrat, wanita berusia 50 tahun asal Benowo, tidak sekadar hadir sebagai penonton; ia hadir untuk menyerahkan seluruh beban batinnya melalui ritual ruwatan masal.

Dewi menggandeng erat tangan suaminya, Sukma Hendra Hermawan terlihat begitu dalam menyelami setiap prosesi, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar. Selama prosesi ruwat, Dewi membawa serta selembar foto bergambar seorang perempuan yang ternyata kakaknya bernama Sri Pamilih Weise.

Di sela ruwatan, Dewi mengatakan momen ruwatan ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kakaknya yang kini berusia 73 tahun dan  menetap di negara Belanda selama 47 tahun. Baginya, ruwatan adalah jalan untuk membasuh jejak-jejak masa lalu yang selama ini menghimpit langkahnya.

“Pembersihan atas bisa jadi karena kelakuan-kelakuan, keputusan-keputusan atas waktu-waktu, atas tempat-tempat, atas manusia-manusia, atas peristiwa demi peristiwa di sepanjang hidup kami,” ungkap Dewi dengan suara bergetar dan menitikkan air mata saat diwawancarai.

Air matanya yang jatuh menjadi saksi betapa besarnya harapan yang ia gantungkan pada ritual ini. Ia merasa perlu menyelaraskan kembali energi hidupnya dari segala kesalahan dan keputusan masa lalu yang mungkin membawa dampak kurang baik bagi jiwanya.

Selama prosesi berlangsung, Dewi mengaku mengalami sensasi spiritual yang luar biasa, di mana ia merasa benar-benar kembali ke “titik nol”. Meskipun dikelilingi oleh banyak peserta dalam format masal, ia merasa seolah hanya ada dirinya, sang suami, dan Sang Pencipta. Keheningan batin itu membawanya pada perasaan menjadi seorang yang terlahir kembali dengan jiwa yang murni.

“Ini kan balik lagi ke harafiah, balik lagi ke nol, balik lagi ke titik nadir, balik lagi menjadi newborn (hidup baru), balik lagi menjadi suci, terlahir kembali,” tuturnya dengan penuh penghayatan.

Baginya, fokus yang dalam selama ritual membuatnya hanyut secara sadar ke dalam pusaran energi positif yang memotong keterikatan negatif masa lalu. Sensasi “sendiri” di tengah keramaian ini menjadi momen paling intim antara dirinya dengan Gusti Allah.

Pasca ritual, Dewi merasakan kekosongan yang damai dalam pikirannya. Tidak ada lagi hiruk-pikuk penyesalan atau kekhawatiran yang berkecamuk, yang tersisa hanyalah rasa syukur dan kepasrahan total. Ia belajar untuk berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada dirinya sendiri atas segala hal yang telah ia lalui selama setengah abad kehidupannya.

Suasana Ruwatan Massal di Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Surabaya, di bulan Suro hari Rabu Wage atau Rabu 1 Juli 2026 kalender Masehi. Ruwatan massal dipimpin Dalang Ruwat Ki Suwito Sri Mudo Darsono. (foto: vico wildan/superradio.id)

“Perubahan itu nanti seiring berjalannya waktu ya, tapi yang jelas untuk saat ini, detik ini yang saya rasakan adalah saya enggak mikir apa-apa, saya kosong,” kata Dewi dengan wajah yang kini lebih tenang.

Ia meyakini bahwa dengan “mengosongkan” diri, ia memberikan ruang bagi hal-hal baru yang lebih baik untuk masuk ke dalam hidupnya dan suaminya. Baginya, kepasrahan adalah bentuk tertinggi dari iman kepada hak prerogatif Sang Pencipta.

Keteguhannya memegang budaya Jawa juga terlihat saat ia menjelaskan filosofi geser lawang (menggeser pintu) untuk menghindari kemalangan, sebuah nasehat leluhur yang ia pegang teguh. Ia merasa leluhur telah memanggilnya untuk melakukan pembersihan ini demi keselamatan keluarga besar, termasuk kakaknya yang berada di diaspora. Dewi percaya bahwa jarak ribuan kilometer antara Surabaya dan Belanda tidak menjadi penghalang bagi pancaran energi ruwatan ini.

Menutup perbincangan, Dewi Ratih Purwa Ningrat menyatakan bahwa ia menaruh harapan yang seluas jagat alit dan jagat besar atas perubahan hidupnya ke depan. Dari Benowo, ia datang dengan air mata penyesalan, namun pulang membawa harapan baru sebagai sosok “newborn” yang siap menapaki babak baru.

Baginya, Arca Joko Dolog pada 1 Juli tersebut bukan sekadar situs sejarah, melainkan tempat di mana jiwanya menemukan jalan pulang menuju kesucian. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.