Kader GMNI Dilatih Bernalar Kritis dan Taktis di Arena Wacana Digital
SR, Surabaya – Di tengah pesatnya perkembangan media digital dan derasnya arus disrupsi informasi, pembekalan literasi media dan pelatihan jurnalistik kini menjadi kebutuhan krusial, bukan lagi sekadar pilihan sekunder.
Kesadaran ini mendorong Rumah Literasi Digital bersama DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya menggelar Pelatihan Jurnalistik Batch #3 bertajuk “Merawat Nalar Kritis dalam Penulisan & Jurnalistik” pada Jumat (16/10/2026) di Hotel The Alana Surabaya.
“Penguasaan jurnalistik adalah strategi perjuangan baru yang sangat penting untuk memperkuat benteng nalar kritis kader di era disrupsi informasi. Kami menyadari bahwa perjuangan hari ini tidak hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga di medan wacana digital,” kata Ni Kadek Ayu Wardani, Ketua DPC GMNI Surabaya Raya.
Melalui pembekalan materi yang komprehensif, Ni Kadek berharap seluruh kader mampu mentransformasikan nilai-nilai marhaenisme menjadi narasi yang tajam, terukur, dan aman secara hukum.
Pelatihan diikuti oleh 35 perwakilan komisariat kampus dari berbagai daerah seperti Jember, Blitar, Madiun, dan Surabaya. Pelatihan juga diisi oleh nara sumber yang relevan dengan problematik sosial, ekonomi, dan politik saat ini. Di antara nara sumber yang berbagi ilmu: Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Ketua PGRI Jawa Timur Djoko Adi Waluyo, serta Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kadin Jawa Timur Tri Prakoso.

Jurnalistik Kritis tapi Peduli Rambu Hukum
Dalam sesi pendalaman materi teknis, pemateri foto jurnalistik, Ali Masduki, menekankan pentingnya kejujuran fakta dalam setiap karya visual. Menurutnya sebuah foto jurnalistik tidak sekadar jepretan gambar yang bagus atau estetik.
“Foto jurnalistik adalah representasi fakta yang jujur dan berbicara. Visual yang ditangkap harus memiliki kedalaman pesan, menyampaikan realitas sosial apa adanya, serta memihak pada kebenaran, ” papar Ali Masduki .
Sementara itu, Fatchur Rohman yang membawakan materi Artikel SEO mengingatkan pentingnya menguasai teknik mesin pencari untuk memenangkan narasi gerakan. “SEO adalah alat perjuangan digital agar gagasan, pemikiran kritis, dan narasi gerakan GMNI Surabaya Raya bisa berada di barisan terdepan hasil pencarian masyarakat. Kuasai algoritmanya, menangkan narasinya,” tegas Fatchur Rohman.
Aspek perlindungan hukum dan keselamatan kerja jurnalis juga menjadi perhatian utama dalam pelatihan ini melalui materi safe reporting yang disampaikan oleh Andika Ismawan. Dijelaskan di tengah iklim kebebasan berpendapat yang penuh tantangan dan risiko hukum. “Safe reporting adalah perisai utama bagi setiap jurnalis dan aktivis. Berani bersuara kritis itu wajib, tapi paham regulasi, menjaga keselamatan diri, serta cermat memverifikasi sumber data adalah kecerdasan taktis,” terang Andika Ismawan.
Materi ini dilengkapi pula oleh Deni Edi Santoso dan Eko Edi Rangkutih yang memaparkan strategi pengelolaan konten media sosial agar konsisten, terukur, dan mampu menggerakkan kesadaran masyarakat.
Melalui pelatihan ini, 35 peserta perwakilan komisariat kampus dari Jember, Blitar, Madiun, hingga Surabaya Raya berkomitmen untuk menjadi barisan penulis yang berani, adaptif, dan konsisten merawat nalar kritis di ruang-ruang publik. (js/red).
Tags: GMNI, Jurnalistik, kritis, pelatihan, rumah literasi, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





