JIAD Serukan agar Umat Islam Hentikan Persekusi dan Diskriminasi

Yovie Wicaksono - 23 December 2019
Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Aan Anshori. Foto : (Istimewa)

SR, Jombang – Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) sebagai bagian dari masyarakat Islam Indonesia, menyerukan agar umat Islam menghentikan segala persekusi dan diskriminasi terhadap Kekristenan dan pemeluk agama lain.

“Islam tidak bisa lagi disandera untuk memuntahkan narasi egoistik penuh kebencian terhadap anak bangsa yang berbeda agama atau keyakinan. Berhentilah merongrong Pancasila dan kebhinnekaan dengan membawa-bawa Islam,” ujar Koordinator JIAD Aan Anshori di Jombang, Minggu (22/12/2019).

Hal tersebut menanggapi mencuatnya peristiwa pelarangan Natal di Kabupaten Dharmasraya dan Sijunjung, Sumatera Barat.

Aan mengatakan, pelarangan ini tidak bisa diterima, baik secara nalar maupun konstitusi. Keduanya menjamin kemerdekaan beragama atau berkeyakinan sekaligus ekspresinya.

“JIAD sangat menyayangkan respon Negara yang terkesan lembek menghadapi masalah ini. Negara dan aparaturnya perlu belajar lagi tentang Pancasila dan Konstitusi, bahwa apapun perikatan, perjanjian, kesepakatan yang bertentangan dengan Pancasila dan Konstitusi tidaklah bisa dibenarkan,” ujarnya.

Aan kemudian mengingatkan peristiwa seorang Katolik yang dilarang tinggal di pemukiman Muslim di Bantul atas dasar tradisi dan kesepakatan.

“Namun Negara hadir dan senyatanya menyelesaikan masalah itu. Kuncinya ada di aparat negara. Keengganan mereka justru menimbulkan spekulasi sejauh mana radikalisme menelusup di tubuh negara?” tanyanya.

Ia mengatakan, negara perlu segera turun tangan ikut memastikan umat Kristiani di dua kabupaten tersebut terpenuhi hak-haknya.

“Biarlah Natal tahun ini menjadi Natal tragis terakhir kali yang tidak boleh terulang lagi ke depannya,” tandasnya.

Selain itu, menurutnya, perongrongan Pancasila lainnya muncul di Jawa Timur dalam bentuk imbauan MUI yang melarang orang Islam mengucapkan Selamat Natal.

Aan mengatakan, imbauan tersebut sangat berpotensi memecah belah keluarga besar Indonesia.

“Tidak ada manfaatnya sama sekali dan malah justru menimbulkan kemudharatan. Itu sebabnya imbauan ini tidak perlu diikuti,” katanya.

Sebaliknya, JIAD menyerukan kepada setiap muslim agar tidak perlu takut mengucapkan Selamat Natal dan menghadiri undangan perayaannya sebagaimana yang pernah dicontohkan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan ribuan pengikutnya (GUSDURian).

“Dalam konteks ini, JIAD mengamini dawuh Gus Dur, semakin tinggi kadar keislaman seseorang, harusnya, semakin besar pula rasa toleransinya,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.