Inovasi Cokelat Tahu

Yovie Wicaksono - 25 August 2019
Cokelat Tahu Hasil Inovasi dari Kampoeng Tahu. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Kampoeng Tahu di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, melakukan inovasi varian makanan baru berupa cokelat tahu.

Ide tersebut muncul pada awal Mei 2018 lalu dari sekumpulan remaja putri yang masih berstatus pelajar setingkat SLTA.

“Awalnya kita sebelumnya sudah ada pabrik tahu, terus kemudian kita dapat hibah dari Dikti melalui Uniska (Universitas Islam Kadiri). Uniska mencetuskan Kampoeng Tahu ini, kita berusaha mengelola untuk membuat cokelat tahu,” ujar salah satu pencetus cokelat tahu, Via kepada Super Radio, Sabtu (24/8/2019).

Via mengaku, keterampilan yang mereka miliki itu diperoleh setelah mengikuti keterampilan dari Dikti. Tidak hanya dibekali cara memproduksi jajanan cokelat tahu, mereka juga dilatih untuk mengolah ampas tahu agar bisa dimasak menjadi kerupuk yang higienis dan gurih. Serta keterampilan membuat souvenir oleh-oleh khas Kediri.

Cokelat tahu yang Via buat bersama temannya ini rasanya tidak kalah dengan produk cokelat mente buatan pabrik bermerek. Hal ini dikarenakan, bahan tahu yang digunakan terlebih dahulu dibuat crispy yang kemudian diiris menjadi beberapa bagian dan dimasukan ke dalam cokelat hingga membuat tekstur yang empuk dibalut rasa cokelat yang manis seperti cokelat mente.

Proses pembuatan cokelat tahu ini membutuhkan waktu kurang lebih antara 1-2 jam. Satu kilo cokelat dan 3 potong tahu bisa dibuat menjadi 27 pics cokelat tahu. Sedangkan untuk satu kotaknya dijual seharga Rp 10 ribu berisi 4 batang cokelat tahu.

Cokelat tahu tersebut dipasarkan secara online dan untuk sementara waktu ini dititipkan di salah satu outlet yang setiap harinya menjual produk makanan dan minuman oleh-oleh khas Kediri.

Karena produk yang dijual masih tergolong  baru, dalam rentang waktu dua minggu makanan cokelat tahu khas Kediri ini bisa terjual 40 pics. Diluar itu, Via mengaku dirinya juga pernah menerima pesanan sebanyak 180 pics untuk dikirim ke Jakarta.

“Kita mulai pasarkan kemarin dari bulan Mei 2019, dengan sistem online sama kita titipkan ada di toko tahun 99 Tinalan sana. Kebanyakan pembeli masih teman dekat, terus dibawa untuk oleh-oleh ke Ambon, Jakarta. Imbasnya dari yang diberi oleh-oleh lantas suka, kemudian beli lagi dan kita produksi lagi. 2 minggu kita bisa menjual 40 pics, dari Online. Paling banyak kemarin orderan 180 pics, kita kirim ke Jakarta. Terus ke Ambon 20 pics,” ujarnya.

Kendala mereka  saat ini adalah belum memiliki tempat sendiri yang representatif untuk memproduksi. Sementara waktu ini  mereka berenam terpaksa harus menumpang di salah satu tempat pemilik outlet.

Meski demikian, mereka sudah memiliki peralatan produksi home industri diantaranya, teflon yang dipergunakan untuk tempat penggorengan tahu, mangkok alumunium untuk melelehkan cokelat, cetakan sama pembungkus berbahan alumunium foil dan juga tempat pendingin (lemari es).

Keuntungan hasil dari menjual produk cokelat tahu tersebut, tidak langsung dibagikan secara dividen per orang, melainkan disimpan lebih dulu dipergunakan untuk biaya produksi selanjutnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.