Ini Manfaat Torbangun dan Efek Sampingnya

Yovie Wicaksono - 6 October 2019
Dosen Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Iwan Sahrial. Foto : (Humas Unair)

SR, Surabaya – Di Indonesia, hampir seluruh tanahnya menumbuhkan berbagai tanaman yang memberikan manfaat bagi kebutuhan pengobatan dan nutrisi manusia. Salah satunya yaitu tanaman Torbangun (Coleus amboinicus). Sebagian orang menyebutnya sebagai bangun-bangun atau daun jintan. Daun torbangun memiliki tekstur licin dan tebal serta beraroma oregano atau mint.

Tanaman ini tersebar luas dan telah dikonsumsi harian untuk pengobatan dan makanan tambahan (suplemen) bagi sebagian masyarakat di Afrika, Asia, Australia dan Amerika Selatan.  Tumbuhan yang mampu hidup sekitar 3-10 tahun tersebut, telah lama digunakan secara tradisional sebagai makanan, aditif pakan ternak, serta sebagai obat berbagai macam penyakit.

“Bahkan, para ibu di Sumatera Utara, wajib mengkonsumsi daun torbangun hingga 30 hari. Biasanya mereka memasak sebagai sup untuk merangsang ASI. Menurut kajian, daun torbangun lebih efektif dibandingkan laktagogum,” ujar dosen kedokteran hewan Universitas Airlangga (Unair), Iwan Sahrial.

Selain itu, tanaman torbangun sejak lama digunakan masyarakat sebagai jamu tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit seperti panas, batuk, bronkitis, radang tenggorokan, diare dan disentri.  Di dalam tanaman torbangun tersebut, juga ditemukan kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai obat.

Para peneliti dari berbagai universitas di dunia telah menemukan kandungan senyawa aktif seperti monoterpenoid, sesquiterpenoid, diterpenoid dan phenolic, 3 metil 4 isopropyl phenol, squalene, cariophyline, phytol, alkaloid, glycosid, flavonoid, quinon, tannin, phenol, dan terpenoid.

Melihat potensi tanaman Torbangun yang cukup potensial sebagai bahan obat, Iwan Sahrial bersama rekannya, Rondius Solfaine, berusaha mengevaluasi kekuragan dari daun tersebut.

“Meskipun termasuk dalam obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), salah satu kekurangan dalam menggunakan bahan dari tanaman torbangun sebagai bahan obat yaitu adanya efek samping yang mampu menimbulkan gagal ginjal dan menimbulkan alergi,” ujarnya.

Laki-laki yang menjabat sebagai Kepala Program Studi S1 Pendidikan Kedokteran Hewan PSDKU UNAIR di Banyuwangi tersebut menjelaskan, penelitiannya yang menambahkan cisplatin atau obat pilihan dalam terapi kanker, sarkoma dan karsinoma, dalam ekstrak tanaman torbangun, untuk meminimalisir efek sampingnya.

Menggunakan tikus mencit sebagai subjek ujinya, Iwan bersama tim berhasil menghambat pembentukan gagal ginjal akibat penambahan cisplatin pada ekstrak tanaman torbangun.

“Hal tersebut ditunjukan oleh meningkatnya senyawa factor pertumbuhan (TGF) dengan diikuti penurunan konsentrasi kadar Alkalin pospatase, BUN dan kreatinin, ketiga senyawa tersebut merupakan parameter tes fungsi ginjal,” pungkasnya.

Dari hasil pengujian ekstrak daun torbangun, dosis yang paling efektif dalam menghambat kerusakan ginjal yaitu, pada dosis 100 mg/kg berat badan. Selain itu, Ektrak tanaman torbangun (Coleus amboinicus) juga diperoleh dari daun segar yang disarikan dengan cara maserasi etanol 96 persen. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.