Industri Tempe di Tengah Pandemi

Yovie Wicaksono - 24 January 2021

SR, Surabaya – Pandemi Covid-19 membuat usaha produksi tempe milik Yudi Pardi (48), di jalan Juwingan I Surabaya mengalami penurunan.

“Sebelum corona satu hari bisa produksi 55-60 kilogram kedelai, kemudian saat corona per hari produksi 40 kilogram,” ujarnya, Minggu (24/1/2021).

Hal ini diperparah dengan harga kedelai yang mencapai Rp 9.200 per kilogram atau naik dari sebelumnya Rp 4.000 per kilogram. Bapak tiga anak ini pun, terpaksa harus memperkecil ukuran tempe.

“Setelah ada aksi mogok produksi selama 3 hari lalu baru bisa naik 500 rupiah,” kata pria asal Lamongan ini.

Adapun jenis tempe yang diproduksi Pardi adalah tempe kotak yang dibanderol Rp 1000 per biji, kemudian tempe panjang dan tempe daun Rp 2000 per potong, serta tempe kapuk seharga Rp 2000 per potong.

“Yang paling laris tempe kapuk. Padahal ya bahannya sama, tapi banyak orang bilang kalau tempenya lebih padat dan enak,” imbuh Hartatik (46), istri Pardi yang turut membantu proses produksi.

Proses pembuatan dan fermentasi tempe, bisa membutuhkan waktu tiga hari hingga siap untuk dijajakan.

“Pertama kedelai direndam selama 3 jam, nanti otomatis kotorannya naik dan disaring. Setelah itu kedelai direbus selama 1,5 jam (untuk 40 kilogram kedelai), setelahnya dibilas dengan air dingin dan didiamkan semalaman. Kemudian kedelai digiling dan dicuci 3 kali, baru diberi ragi dan didiamkan selama 10-15 menit, lalu kedelai ditiriskan selama 30 menit, baru dimasukkan ke dalam plastik untuk kemudian proses fermentasi. Kita buat Minggu, Rabu baru bisa dijual,” ujarnya.

Tempe produksi Pardi jika disimpan di lemari pendingin bisa bertahan hingga 2-3 hari, sedangkan jika disimpan di suhu ruangan hanya bertahan satu hari saja.

Sekedar informasi, usaha produksi tempe Pardi ini sudah berjalan sejak 20 tahun silam. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.