Imunisasi Booster Prasekolah Bantu Anak Terhindar dari Penyakit Berbahaya

Yovie Wicaksono - 6 July 2023

SR, Surabaya – Anak usia lima tahun atau prasekolah sebaiknya mendapatkan vaksin booster polio, difteri, pertusis, dan tetanus. Menurut dokter spesialis anak, Melia Yunita, pemberian vaksin di usia tersebut dilakukan agar anak sudah memiliki antibodi dan mencegah kata terlambat untuk imunisasi.

Hal ini dikarenakan anak yang tidak menerima vaksinasi memiliki risiko tinggi terkena penyakit yang berakibat fatal. Contohnya, wabah difteri yang menyebabkan banyak korban meninggal dunia, polio yang melumpuhkan dan memicu disabilitas daksa, dan juga berakibat terhadap kualitas hidup pasien.

“Polio tidak bisa sembuh, maka bayangkan anak kita lumpuh selama-lamanya itu kayak apa rasanya,” ucap Melia.

Jika ada satu orang terkena polio, lanjut Melia, maka sebenarnya sudah ada beberapa orang yang positif tetapi tidak bermanifestasi sampai lumpuh.

“Karena gejala untuk infeksi polio itu beragam, ada yang demam bahkan ada yang tidak bergejala, tetapi ada juga yang gejalanya berat sampai lumpuh itu,” jelasnya.

Ia pun menekankan, vaksin memberikan imunitas pada anak sebagai upaya pencegahan penyakit berbahaya. Imunisasi secara efektif dapat mengurangi risiko sejumlah penyakit, hingga mencegah kematian dan komplikasi penyakit.

Maka dari itu, vaksinasi atau imunisasi anak tidak berhenti sampai usia 19 bulan saja. Tetapi ada vaksinasi untuk anak usia 18 bulan hingga lima tahun.

Menurutnya, penyebaran informasi tentang kebutuhan imunisasi pada anak ini perlu dilakukan agar tak terjadi kasus-kasus penyakit yang kembali muncul seperti polio.

“Mungkin banyak informasi yang tidak sampai ke masyarakat. Sehingga, akibatnya kayak kemarin kejadian polio, yang sebenarnya menyerang anak-anak yang sudah besar,” ucap Melia.

“Biasanya kalau anak masih bayi, ibu-ibu rajin untuk update mana yang belum vaksinnya. Tapi ketika anaknya sudah besar, sudah lupa dan jadwalnya terlambat,” tambahnya.

Ada berbagai alasan orangtua tidak membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi. Salah satunya dimungkinkan karena buku data vaksinasi anak hilang. Sehingga orangtua kebingungan vaksin apa yang diperlukan anak saat itu.

Terkait hal ini, Melia menyarankan orangtua untuk tetap membawa anak ke fasilitas kesehatan agar tetap mendapat vaksin. Pasalnya, mendapatkan suntikan vaksin yang sama dua kali tidak akan menyebabkan overdosis.

“Apabila buku data vaksinasi anak hilang ketika anak berusia 5 tahun, atau ibu ragu anak sudah divaksin atau belum, maka Ibu dapat segera membawa anak untuk di vaksin booster. Sebab, tidak ada yang namanya overdosis vaksin,” tutur Melia. (*/vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.