Ilmu Sebagai Penentu Baik Buruknya Perilaku Seseorang

Yovie Wicaksono - 11 May 2021
Tarian Sufi Turki. Foto : (theculturtrip.com)

SR, Surabaya – Ada tiga hal pokok yang diajarkan oleh Islam agar kehidupan manusia baik di dunia dan akhirat bisa berjalan sesuai harapan, yakni harmoni di antara iman, ilmu, dan amal. Dosen Pasca Sarjana di Institut PTIQ Jakarta Nur Rofiah mengatakan, hakikat dan harmonisasi dari tiga aspek terpenting ini dalam beragama yang kemudian menjadi tolak ukur baik tidaknya perbuatan orang dalam keseharian. Konsekuensi dari beriman secara benar adalah akan melahirkan kemaslahatan, baik itu untuk dirinya sendiri atau lingkungan sekitar, tentunya dengan cara yang baik pula.

Dijelaskan, beragama tanpa ilmu berpotensi merusak segalanya, karena boleh jadi ia menyangka benar apa yang salah fatal, menduga suatu perbuatan sebagai ibadah padahal sama sekali bukan, menganggap berpahala atas apa yang sebenarnya berdosa, meyakini maslahatnya sesuatu padahal senyatanya adalah mafsadat dan sebaliknya, demikianlah seterusnya.

Kebutaan akan ilmu-ilmu agama telah membuat sebagian besar kaum beragama menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan mereka, dan mereka pun mengangkat orang-orang yang tidak paham agama sama sekali menjadi panutannya. Ketika dalam kondisi seperti ini, maka satu-satunya cara yang bisa mengontrol hawa nafsu dan perbuatannya adalah ilmu pengetahuan. Maka dengan mantapnya ilmu pengetahuan akan berdampak baik pada perilaku orang dalam beragama.

“Untuk bisa memastikan bahwa perbuatan kita itu memberi dampak baik bagi diri sendiri dan pihak lain sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, maka perlu ilmu. Tidak yang asal-asalan semisal ingin berbuat baik tapi caranya membahayakan,” ujar Nur Rofiah saat menjadi pembicara bertema “Inspirasi Walisongo; Iman, Ilmu dan Amal” yang ditayangkan melalui kanal YouTube BKN Pusat PDI Perjuangan, Selasa (11/5/2021).

Nur Rofiah memberikan arahan bagaimana cara mendapatkan ilmu yang baik. Menurutnya, hal itu bisa di dapatkan dari pengalaman, dari bertanya, atau memperbanyak bacaan. Untuk mendapatkan ilmu tidak harus duduk di bangku sekolah, setiap manusia sudah dibekali akal dan hati nurani untuk mengolah pengalaman menjadi sebuah ilmu pengetahuan.

“Dan cara untuk bisa berilmu itu tidak harus belajar secara khusus di bangku sekolah. Orang diberi akal dan hati nurani untuk memilah, memilah mana yang baik dan yang buruk adalah dengan akal, lalu  memilih atau berkomitmen yang baik itu dengan hati nurani,” pungkas Nur Rofiah.

Sekadar informasi, program Ngabuburit BKN Pusat PDI Perjuangan dengan tema besar ‘Mata Air Kearifan Walisongo’ hadir setiap hari pada bulan Ramadan pukul 17.00 WIB. Semuanya dapat diikuti melalui kanal Youtube: BKNP PDI Perjuangan, Instagram: BKNPusat dan Facebook: Badan Kebudayaan Nasional Pusat. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.