Guyub Rukun, Warga Lintas Agama Gelar Doa Bersama di Cagar Budaya Joko Dolog

Rudy Hartono - 3 July 2026
Lima pemuka agama bergantian berdoa dengan tata cara masing-masing dalam puncak acara Festival Joko Dolog Surabaya, Kamis (2/7/2026). (foto: vico wildan/superradio.id)

SR, Surabaya – Kawasan Cagar Budaya Arca Joko Dolog, Surabaya, berubah menjadi panggung persatuan saat warga dari berbagai keyakinan berkumpul bersama pada Kamis malam (2/7/2026). Mengenakan busana adat dan keagamaan masing-masing, para tokoh dan umat beragama melingkar di bawah pohon beringin untuk memanjatkan doa perdamaian pada puncak hari kedua Festival Joko Dolog.

Suasana khusyuk dan tenang menyelimuti situs sejarah tersebut saat lantunan doa dari tiap agama berkumandang bergantian. Kehadiran perwakilan Walikota Surabaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, hingga aparat TNI/Polri setempat mempertegas dukungan pemerintah terhadap penguatan fondasi toleransi di jantung Kota Pahlawan.

Ketua Panitia, Khoirul Anam, menjelaskan bahwa doa lintas agama ini sengaja ditempatkan sebagai agenda utama. Langkah ini menjadi penegasan bahwa cagar budaya adalah ruang publik yang inklusif dan ramah bagi semua golongan, sekaligus bukti nyata bahwa menjaga warisan sejarah merupakan tanggung jawab kolektif.

Kehangatan acara berlanjut dengan prosesi pemotongan tumpeng sesaji Suro yang mengusung tema “Budaya Jati Diri Bangsa”. Menariknya, tumpeng-tumpeng tersebut lahir dari hasil swadaya bersama antara abdi dalem, masyarakat sekitar, dan donatur, yang mencerminkan semangat guyub rukun dan gotong royong antarwarga.

Melalui rangkaian acara Festival Joko Dolog ini panitia juga berupaya keras mengikis stigma negatif yang selama ini melekat pada tempat-tempat bersejarah. Mereka menegaskan bahwa berdoa dan berkegiatan di situs sejarah seperti Arca Joko Dolog bukanlah perbuatan syirik, melainkan media untuk mengenal akar budaya nusantara dan merajut persaudaraan di tengah perbedaan.

“Cagar Budaya Arca Joko Dolog adalah ruang yang ramah bagi siapa saja yang ingin belajar tentang akar budaya nusantara. Dan, festival ini berfungsi ganda: sebagai benteng tradisi sekaligus ruang sosialisasi budaya yang terbuka bagi umum,” kata Khoirul Anam.

Sinden melantunkan suara emas menemani ki dalang yang memainkan lakon “Sedekah Bumi” di acara penutup Festival Joko Dolog 2026. (foto: vico wildan/superradio.id)

Rangkaian malam puncak toleransi tersebut ditutup dengan pagelaran seni wayang kulit berlakon “Sedekah Bumi”. Panitia berharap pesan perdamaian dan kerukunan yang tercipta dari cagar budaya ini dapat terus berlanjut dan menjadikan Festival Joko Dolog sebagai agenda tahunan yang dinanti setiap bulan Suro. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.