GMNI Surabaya: Pena & Gawai Alternati Baru Medan Juang Ideologis
SR, Surabaya – Sebanyak 33 kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul di Kota Surabaya untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Batch 2 pada Rabu (10/6/2026).
Agenda strategis ini dirancang untuk mengubah paradigma kader pergerakan dari sekadar konsumen informasi pasif menjadi produsen konten yang cerdas, berintegritas, dan bertanggung jawab di tengah disrupsi digital.
Berbeda dari pelatihan seremonial pada umumnya, agenda ini menitikberatkan pada praktik penulisan langsung dan publikasi karya nyata. GMNI Surabaya Raya menggandeng Rumah Literasi Digital (RLD) serta menjalin kemitraan strategis dengan 35 media massa yang siap mempublikasikan karya peserta setelah melalui proses kurasi ketat.
Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, menegaskan bahwa medan perjuangan ideologis hari ini telah meluas ke ruang siber. Penguasaan narasi digital dinilai sebagai medan pertempuran baru yang wajib dimenangkan oleh para kader.

“Perjuangan ideologis hari ini tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik di jalanan, melainkan keunggulan gagasan di dunia maya. Pena dan gawai di tangan rekan-rekan adalah senjata utama untuk melanjutkan jurnalisme progresif revolusioner,” ujar Ni Kadek.
Hal senada disampaikan oleh Specialist Riset Visual RLD, Ali Masduki, yang menyebut jurnalisme bagi kader GMNI merupakan “jalan pedang” untuk mendidik rakyat sekaligus melawan manipulasi visual serta teks di media sosial. Sementara itu, Ketua RW (Rukun Warta) RLD, Fatchur Rohman, mengingatkan pentingnya jam terbang menulis agar karya yang dihasilkan tidak terasa hambar.
Menaklukkan AI Tanpa Kehilangan Nurani
Pelatihan ini juga mengupas tuntas tantangan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pers. Hadir sebagai narasumber utama, mantan jurnalis Anom Surahno SH M.Si. Dalam paparannya, Anom yang juga alumni GMNI mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus ditaklukkan, bukan ditakuti. Namun, ia menekankan kontrol moral dan verifikasi berlapis harus tetap dipegang utuh oleh manusia.

“AI adalah asisten yang sangat efisien untuk membantu riset data hingga menyusun draf awal. Namun, kecerdasan buatan tidak memiliki hati nurani, moralitas, maupun kepekaan sosial. Tanggung jawab hukum dan etika pers sepenuhnya melekat pada integritas jurnalisnya, bukan pada aplikasi AI yang digunakan,” tegas Anom yang juga merupakan pejabat fungsional Asesor SDM Pemprov Jawa Timur.
Antusiasme tinggi terlihat dari latar belakang delegasi yang hadir dari berbagai wilayah di Jawa Timur, mulai dari DPK UPN Veteran Jatim, DPK FIS Unesa, DPK FISIP UNTAG Surabaya, GMNI Sampang, Alumni GMNI UNTAG, DPC GMNI Jember, DPC GMNI Madiun, hingga DPK UNISBA. Melalui pembekalan taktis ini, pergerakan jalanan dan perjuangan digital kini menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi bagi GMNI dalam menyuarakan aspirasi kaum Marhaen yang terpinggirkan. (js/red)
Tags: Gawai, GMNI, pelatihan jurnalistik, pena, superradio.id, surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





