Dr Unggul:  Tarif AS Jadi 19 Persen Momentum Menangi Persaingan di ASEAN

Rudy Hartono - 23 July 2025
Suara warga adalah artikel atau opini pribadi penulis dan bukan representasi redaksi Super Radio
Dr Unggul Heriqbaldi SE Mec, pakar ekonomi internasional Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga (net)

SR, Surabaya – Keputusan Presiden USA Donald Trump mengenakan tarif 19 persen untuk barang impor dari Indonesia menjadi pukulan ringan namun tetap menyakitkan bagi beberapa sektor ekspor nasional. Tarif ini turun dari ancaman awal 32persen. Menurut pakar ekonomi internasional FEB UNAIR Dr Unggul Heriqbaldi SE MEc, hal itu merupakan hasil diplomasi dagang yang patut diapresiasi.

“Secara diplomasi, ini capaian penting. Kita berhasil menurunkan potensi kerugian yang bisa menghantam sektor padat karya,” tegasnya.

Tarif 19 persen memang masih tinggi, namun jauh lebih moderat dibanding tekanan awal, menunjukkan posisi tawar Indonesia tetap relevan dalam rantai pasok global.

Sektor tekstil, alas kaki, furnitur kayu, hingga perikanan adalah yang paling rentan. Pasalnya, margin keuntungan sektor-sektor ini tergolong tipis membuat tarif ini langsung memukul harga jual. “AS masih menjadi pasar utama sekitar 20–25persen ekspor alas kaki dan pakaian jadi. Bila harga naik, ada potensi relokasi order ke negara pesaing seperti Vietnam atau Bangladesh,” terangnya

Dampak juga dirasakan sektor agrikultur bernilai tambah rendah seperti udang beku, kelapa, dan minyak sawit olahan, apalagi jika dikombinasikan dengan hambatan logistik dan sertifikasi non-tarif (NTB).

Namun Indonesia tetap memiliki keunggulan, misalnya struktur industri yang fleksibel, kualitas produk, dan ketepatan waktu pengiriman masih menjadi faktor pembeda. “Kuncinya adalah menjaga efisiensi produksi dan menjawab kebutuhan pasar dengan cepat,” tambahnya.

Bukan  Alarm Bahaya

Dibanding negara ASEAN lain, posisi Indonesia lebih menguntungkan. Vietnam dikenakan tarif (46persen), Thailand (36persen), Malaysia (25persen). Sedangkan Indonesia kini turun 19persen. “Ini momentum bagi produsen kita untuk menawarkan alternatif kepada buyer global yang mulai melirik keluar dari Vietnam,” paparnya.

Hal ini bisa menjadi celah dagang yang sangat potensial, bukan hanya bertahan, tapi merebut pangsa pasar dari negara pesaing regional.

Menurutnya, Indonesia bisa memanfaatkan tiga langkah, misalnya diversi rantai pasok global (mengalihkan order dari negara bertarif lebih tinggi ke Indonesia), diplomasi perdagangan bilateral, dan reformasi logistik domestik.

“Tarif ini bukan alarm bahaya, tapi sinyal bagi kita untuk mempercepat efisiensi dan merebut peluang,” pungkasnya. Dunia boleh mengetatkan pasar, tapi Indonesia tak kehilangan arah. (*/red)

 

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.