Deklarasi Gerakan Indonesia Menyusui

Yovie Wicaksono - 17 August 2019
Deklarasi Gerakan Indonesia Menyusui (GIM) di Surabaya, pada Jumat (16/8/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Berbagai stakeholder peduli pendidikan dan advokasi Air Susu Ibu (ASI) mendeklarasikan Gerakan Indonesia Menyusui (GIM) di Surabaya, pada Jumat (16/8/2019).

“GIM ini bertujuan untuk menjadi gerakan sosial dalam memperjuangkan hak dasar bayi melalui pendidikan dan advokasi terkait ASI. Kita bersiteguh, bahwa ASI harus menjadi sumber nutrisi yang bisa diakses oleh bayi, tidak boleh ada halangan, manipulasi, dan sebagainya. Kita akan memperjuangkan itu,” ujar Direktur Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik (Puspek) FISIP Universitas Airlangga (Unair), Novri Susan.

Novri mengatakan, GIM ini dilatarbelakangi oleh tingkat asupan ASI bayi, baik eksklusif dan sempurna dua tahun, masih berada pada tingkat yang belum optimal di Indonesia. Sampai tahun 2017, data Kemenkes RI menunjukkan bahwa tingkat ASI eksklusif baru mencapai 57.8 persen dari target 90 persen.

Sedangkan bukti penelitian lapangan kerjasama Puspek FISIP Unair dengan jaringan Gerakan Indonesia Menyusui di Tuban dan Surabaya menunjukkan, tingkat penggunaan susu formula lebih tinggi dibandingkan ASI.

“Pada laporan penelitian, orangtua memberikan susu formula kepada bayi mencapai 48 persen di Tuban, sedangkan Surabaya mencapai 52.5 persen,” imbuhnya.

Penelitian ini menggunakan 200 responden dengan pemilihan berdasar stratified random sampling. Penelitian di Kabupaten Tuban dilaksanakan 14-28 Agustus 2018 sedangkan Kota Surabaya 21-29 Januari 2019. Dua kota tersebut dipilih berdasarkan perbedaan secara karakter masyarakatnya, dimana Surabaya kota industrial dan metropolitan, sedangkan Tuban karakter masyarakatnya lebih agraris.

“Di Tuban mereka menggunakan ASI bukan karena menolak susu formula, tapi karena mereka tidak mampu membeli susu formula, jadi pertimbangannya ekonomis,” imbuhnya.

Selain itu, data mengejutkan menunjukkan 60 persen dokter merekomendasi susu formula di Kabupaten Tuban, sedangkan Surabaya mencapai 66.5 persen. Para bidan juga menjadi salah satu bagian terpuruknya ASI, sebab di Kabupaten Tuban ada 64.5 persen bidan-perawat merekomendasikan susu formula, dan bidan-perawat di Kota Surabaya 71.5 persen.

“Laporan statistik ini menciptakan rasa keprihatinan atas konsekuensi rendahnya ASI adalah akibat dari komitmen dan profesionalitas tenaga kesehatan yang tidak ideal,” ujarnya.

Fakta rendahnya tingkat asupan ASI menjadi salah satu variabel yang mempengaruhi stunting atau gizi buruk.

Novri menambahkan, resonansi atau efek selanjutnya adalah ancaman terhadap salah satu tujuan utama pembangunan, yaitu kualitas sumberdaya manusia bangsa. Oleh sebab itu, GIM mengajak seluruh elemen untuk memperjuangkan hak dasar bayi, mendapatkan ASI eksklusif dan sempurna.

Sementara itu, menurut dr Dini Adityarini, ASI adalah zat yang tidak tergantikan, karena mengandung zat-zat bioaktif yang tidak didapatkan di bahan makanan pengganti lainnya.

Adapun isi dari deklarasi Gerakan Indonesia Menyusui adalah :

1. Negara harus melindungi hak dasar bayi dalam mendapatkan asupan ASI melalui penegakan hukum undang-undang kesehatan.

2. Negara membatasi secara serius peredaran produk formula bayi yang bertentangan dengan peraturan perundangan kesehatan.

3. Negara perlu meningkatkan pendidikan laktasi untuk para orang tua.

4. Menyeru tenaga-tenaga kesehatan, baik dokter, bidan dan perawat, tidak menjadi bagian dari peredaran produk formula.

5. Menyeru para orang tua untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam laktasi. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.