Berbagai Hasil Kerajinan Tangan Warga Binaan Hiasi Pas Kafe Kelas 2A Kediri

Yovie Wicaksono - 22 May 2021
Berbagai Hasil Kerajinan Tangan Warga Binaan, Hiasi Pas Kafe Kelas 2A Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Ada beragam pernak pernik hasil kerajinan tangan yang ditampilkan di dalam Pas Kafe Kelas 2A Kediri di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Kediri. Pas kafe sendiri setiap harinya dimanfaatkan sebagai fasilitas ruang tunggu bagi para pengunjung yang ingin bertemu atau membesuk kerabatnya yang menjadi penghuni warga binaan.

Sambil menunggu dan menikmati makan dan minum, pengunjung dapat melihat lihat hasil buah karya para penghuni lapas.

Adapun karya yang dipamerkan  antara lain kerajinan kain tenun ikat, pembuatan mebel kursi dan meja, pembersih lantai serta lainnya.

Staff kegiatan kerja lembaga pemasyarakatan kelas 2A Kediri, Efendi Agus Setiawan menjelaskan, khusus untuk kegiatan  kerajinan membuat kain tenun ikat sudah berlangsung 4 tahun lalu dan hingga sekarang masih eksis.

Produksi kain tenun ikat untuk saat ini melibatkan sekitar 5 orang warga binaan terdiri dari 3 perempuan dan 2 orang laki laki.

“Hasil karya tenun ikat kita pasarkan di galeri kita (Pas Kafe), kedua kita pasarkan kepada rekanan dalam hal ini bedali mas yang ada di sentra tenun ikat bandar,” ujar Efendi.

Untuk menunjang kegiatan  produksi agar bisa menghasilkan karya kain tenun ikat yang berkualitas, di dalam ruang lapas sudah tersedia 5 unit peralatan kelengkapan mesin tradisional bantuan hibah dari Bank Indonesia.

“Pembagian hasil keuntungan dari penjualan 80 persen untuk bedali emas, 20 persen untuk sini. 20 persen itu 10 persen disetorkan ke kas negara, 5 persen untuk premi warga binaan dan 5 persen lainnya digunakan untuk operasional,” imbuhnya.

Terkait bahan, juga sudah disediakan dari sentra pengrajin bedali emas. Para warga binaan hanya tinggal untuk mengerjakan. Ke 5 warga binaan ini, diketahui sebelumnya memiliki catatan pidana kasus narkoba, penipuan penggelapan serta perkara perlindungan anak.

“Campur-campur, perkara narkoba ada, 372 juga serta perlindungan anak,” ujarnya.

Efendi mengatakan, jika para warga binaan ini bisa menekuni dengan serius pengerjaan produksi kain tenun ikat, dalam waktu 3 hari mereka bisa memproduksi 1 lembar kain tenun.

Harga kain tenun ikat dijual dengan harga bervariatif. Kain tenun ikat kualitas baik dijual harga Rp 200 ribu, sementara untuk kualitas standart Rp 160 ribu.

“Saya sengaja menaruh hasil karya warga binaan di kafe ini, harapannya  biar pengunjung tahu, bahwa mereka ini juga bisa berkarya di dalam. Selain kain tenun ikat, disini juga ada bahan pembersih untuk cuci piring dan pembersih lantai,” tuturnya.

Disamping itu juga ada hasil karya pembuatan mebel. Namun khusus untuk produksi mebel, pembuatannya dilakukan setelah menunggu adanya pemesanan terlebih dahulu.

“Harganya bervariatif, kalau meja dan kursi satu set berkisar Rp 900 ribu – Rp 1,2 juta,” pungkasnya.

Ia menegaskan, semua warga binaan pemasyarakatan memiliki hak serta  peluang yang sama untuk mengikuti pelatihan. Namun semuanya harus didasari dengan niat yang tulus dari warga binaan  lapas itu sendiri.

“Kalau kain tenun ikat, pernah  juga ikut pameran waktu itu di Jakarta, terus pernah dibeli oleh Menperindag tahun 2017,” tambahnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.