Benda Purbakala Kembali Ditemukan di Kediri

Yovie Wicaksono - 6 July 2019
Lokasi ditemukannya benda purbakala di Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tercatat sudah ditemukan sebanyak tiga kali benda purbakala diduga peninggalan kerajaan di wilayah Kabupaten Kediri.

Dengan adanya penemuan ini, masyarakat semakin meyakini bahwa konon Kerajaan Kadiri merupakan kerajaan tertua nomor dua di Indonesia.

Kali ini temuan benda purbakala kembali ditemukan di Desa Karangtengah, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri.

Temuan itu berupa struktur batu bata kuno, yang diduga bangunan sebuah tempat peribadatan atau candi.

Penemuan struktur batu bata kuno ini berawal dari ketidaksengajaan saat warga melakukan aktivitas penggalian tanah. Saat penggalian berlangsung di kedalaman 4 meter diatas permukaan, cangkul yang dipergunakan membentur sebuah batu bata.

Sutris (39) dan Didik (40) warga setempat yang melakukan aktivitas penggalian manual untuk meratakan lahan persawahan kemudian  beralih ke titik lain agar tidak merusak struktur peninggalan bersejarah tersebut.

Penemuan ini kemudian didengar oleh Tim Damar Panuluh Nusantara (DPN), yaitu komunitas penyelamat dan pelestari benda-benda peninggalan leluhur.

Lokasi ditemukannya benda purbakala tersebut berada di kawasan aliran Sungai Konto di Dusun Wangkal, tepatnya  pada kawasan galian pasir atau tanah urug lahan milik salah satu warga.

Begitu di cek dan diketahui masih ada sisa-sisa struktur yang masih rekat dan tertata, Tim DPN menghubungi Pemerintah Desa Karangtengah, Kandangan dan juga Polsek Kandangan, Koramil Kandangan, Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri dan juga Korwil Jupel BPCB Jatim yang ada di Kediri. Respon cepat dilakukan oleh Pemerintah Desa dan juga Polsek Kandangan.

“Keberadaan peninggalan leluhur berupa struktur batu bata kuno yang diduga bagian dari bangunan Candi atau tempat pemujaan kami temukan di dalam sekitar 5 sampai 6 meter dari permukaan Tanah. Hal ini menunjukkan bahwa material vulkanik akibat letusan Gunung Kelud menyapu semua bangunan tersebut hingga sebagian, tanpa berserakan batu batangnya. Kalau kami melihat struktur susunan atau lapisan tanah disekitar temuan batu bata kuno tersebut memang benar. Jadi ada lapisan tanah pasir, tanah kerikil, tanah liat, tanah keras,” ujar ketua sekaligus penanggung jawab Tim Damar Panuluh Nusantara, Rianto, Jumat (5/7/2019).

“Hal ini menunjukkan sudah berulang kali lahar akibat letusan gunung Kelud melintasi kawasan tersebut dan menjadikan peninggalan leluhur berada lebih dalam dari permukaan tanah,” imbuhnya.

Belum bisa dipastikan struktur bangunan kuno tersebut peninggalan pada masa kerajaan apa dan abad berapa, karena masih menunggu penelitian dari Dinas terkait.  Namun batu bata kuno berukuran panjang sekitar 39 sentimeter, lebar sekitar 23 sentimeter dan tebal sekitar 8 sentimeter tersebut diharapkan bisa segera diamankan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.