Begini Wujud Kepedulian Kampus terhadap Masalah Limbah Makanan

Yovie Wicaksono - 26 August 2022

SR, Bali – Fakta bahwa Indonesia termasuk negara penyumbang sampah makanan terbesar membuat beberapa kampus di Indonesia dan Eropa resah. Setidaknya 13 juta ton sampah makanan yang dikumpulkan dari restoran dan rumah tangga tiap tahunnya sebenarnya bisa dipakai untuk memberi makan 28 juta orang yang membutuhkan.

Berangkat dari masalah ini, diadakanlah International Summer School (ISS) di Bali 14-27 Agustus 2022. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian proyek IN2FOOD yang didanai oleh Erasmus+ dari Uni Eropa.

Acara tersebut mengusung tema “Food Waste To Finish’ (fWTF) dengan tujuan untuk memberikan pengalaman yang menginspirasi, inovatif, dan membuat perubahan untuk mahasiswa peserta program ini. Kegiatan ini juga melibatkan keahlian dari masing-masing universitas mitra untuk berbagi pengalaman mereka mengenai cara mengelola food waste.

Dalam kegiatan ISS mahasiwa Indonesia dan Eropa berkolaborasi dalam banyak hal, diantaranya upaya membuat sebuah terobosan dalam mengurangi food waste yang ada di Indonesia dengan melihat kondisi yang terjadi di lingkungan mereka saat ini. Salah satu topik di hari pertama yang disampaikan Joost de Vos & Anna de Visser-Amundson dari Hotelschool The Hague dengan topik “Trend and Bend”.

Dalam sesi tersebut disampaikan bahwa makanan sisa adalah makanan yang hilang selama proses produksi dan rantai pasokan, makanan yang awalnya dimaksudkan untuk konsumsi manusia yang akhirnya dapat digunakan kembali. Pada umumnya, food waste terbanyak dihasilkan dari bahan makanan yang hilang atau rusak yang terjadi selama tingkat ritel dan konsumsi.

Food waste is failure of imagination, kita tidak menyangkal ada sampah makanan tapi kita bisa lebih kreatif sisa makanan yang ada di sekitar kita,” demikian disampaikan oleh Joost.

Peserta pun nampak antusias dalam mengikuti sesi fWTF – System Oriented Design Thinking : Problem Analysis yang disampaikan oleh Ben Robaeyst dan Jamil Joundi dari Ghent University. Dalam sesi ini peserta diajak untuk menggali lebih dalam akar masalah penyebab food waste di 5 tempat yaitu hotel, rumah tangga, pasar tradisional, restoran/pedagang kaki lima dan pesta/resepsi.

“Kita di sini untuk mencari solusi, tapi yang utama adalah kita mengalami proses selama 2 minggu, dan yang terpenting adalah proses untuk anak2 bisa  berdiskusi serta berinteraksi,” ujarnya.

Sedangkan pembicara lainnya dari Eropa yaitu Ulla – Maija Sutinen dan Malla Mattila dari Tampere University fasilitator untuk sesi fWTF Getting Wicked. Pada sesi ini, peserta diminta untuk menuliskan pendapat mereka sendiri tentang bagaimana atau mengapa food waste menjadi masalah yang buruk. Peserta diharapkan dapat menjelaskan contoh atau food waste berdasarkan apa yang mereka temukan selama ini dari pengalaman yang telah mereka rasakan atau yang sering mereka temui sehari-hari.

Food waste ini masalah yang kompleks dab bukan masalah kecil, jadi para mahasiswa harus bisa membuka pikiran mereka lebih luas lagi,” jelas Ulla – Maija Sutinen.

“Tidak hanya hanya berakhir sisa makanan ini menjadi sebuah sampah tapi bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih berharga,” tambahnya.

Dalam rangkaian kegiatan ini pihaknya juga mengundang beberapa pemateri sekaligus organisasi yang sangat peduli dengan adanya permasalahan food waste yang terjadi saat ini, diantaranya yaitu Eva Bachtiar founder Garda Pangan dan Noni Kaban dari Ricolto.

Selain mengikuti kegiatan dalam kelas, peserta juga diajak untuk merasakan pengalaman mereka berbaur dengan masyarakat lokal yang ada di Bali.

Berkolaborasi dengan Scholar of Sustenance (SOS) – sebuah  lembaga non-profit yang berfokus pada upaya penyelamatan makanan – para peserta diajak untuk merasakan kegembiraan hari Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-77 dengan anak-anak yang ada di panti asuhan, antara lain Semara Putra, LKSA K400 Baith_EL dan masih banyak lainnya.

Para peserta baik dari Indonesia maupun Eropa sangat antusias mengikuti beberapa perlombaan tradisional seperti lomba makan kerupuk, memasukan pensil ke dalam botol, dan lomba-lomba lainnya.

Selain itu, dalam kesempatan lainnya setelah sesi kelas selesai, peserta juga berkesempatan untuk menikmati indahnya tarian kecak dan pemandangan pantai Uluwatu yang luar biasa cantik.

Di sela-sela kepadatan waktu di saat akhir pekan, peserta juga diajak untuk menikmati keindahan alam pulau Bali lainnya, diantaranya Nusa Penida dan Desa Panglipuran sebagai suntikan energi baru memasuki minggu kedua International Summer School yang cukup melelahkan menguras tenaga dan pikiran peserta.

Peserta juga berkesematan mencicipi olahan makanan saat sarapan, dengan konsep fWTF (no) WASTE BREAKFAST. Beberapa mahasiswa dari Hotelschool The Hague mencoba mengelola limbah sisa makanan menjadi beberapa sajian sarapan pagi yang menggugah selera.

 Hasil pembelajaran dan diskusi yang didapatkan oleh para peserta selama Summer school ini nantinya akan dipamerkan saat kegiatan International Student Conference (ISC) yang dilaksanakan di Pullman Legian Bali, 25-26 Agustus 2022. Peserta ISS akan mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam kegiatan ISC ini, topik tentang food waste yang dilihat dengan sudut keilmuan yang berbeda.

Sekadar informasi, kegiatan ‘IN2FOOD’, yang secara resmi bertajuk “Resolve A Societal Challenge: Interdisciplinary Approach Towards Fostering Collaborative Innovation in Food Waste Management” dimulai sejak Februari 2021 hingga 2023 ini merupakan hibah Erasmus + Capacity Building yang terdiri dari konsorsium 8 universitas di Indonesia dan Eropa. Lima universitas di Indonesia yaitu Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung, Universitas Bina Nusantara (BINUS) Jakarta, Universitas Prasetiya Mulya (UPM) Tangerang, Universitas Ma Chung (UMC) Malang dan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Jakarta dan 3 universitas di Eropa yaitu Hotelschool The Hague, Belanda; Universitas Ghent, Belgia dan Universitas Tampere, Finlandia.

“Kegiatan ini bertujuan untuk membantu universitas mitra di Indonesia membangun kemampuan untuk menghadapi tantangan sosial di Indonesia melalui pendidikan dan penelitian yang mempromosikan inovasi interdisipliner dan kolaboratif dalam pengelolaan food waste,” ujar Koordinator Utama IN2FOOD dari Indonesia, Johanna Renny Octavia.

“Hal ini dilakukan dengan mengembangkan dan mengatur kegiatan ko-kurikuler interdisipliner di semua universitas mitra yang menangani pengelolaan food waste dan masalah terkait food waste (misalnya, plastik dari makanan dan minuman yang ada di Indonesia). Ini adalah kontribusi kami untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa peserta dari Universitas Ma Chung, Debora mengatakan, kegiatan ini sangat menarik, terlebih banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, mulai dari ilmu mengenai cara menangani sampah makanan, hingga pengalaman bersama dengan mahasiswa asing untuk membuat proyek bersama.

“Saya senang bisa bertemu dengan mahasiswa asing dari Eropa. Kami semua berkegiatan bersama dalam rangka penanganan sampah makanan. Seru dan asyik. Banyak ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan,” pungkas mahasiswi Ma Chung dari Prodi Kimia ini. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.