27 Tahun Reformasi, Tabir Kelam Potret “Interograsi Gelap” Surabaya

Rudy Hartono - 2 June 2025

SR, Surabaya – Rangkaian acara pameran hingga teater bertajuk “Interogasi Gelap” sukses mengajak pengunjung membuka mata, mengungkap tabir reformasi Indonesia yang belum usai.

Bertempat di Balai Pemuda Surabaya, acara yang dilaksanakan memeringati 27 tahun reformasi tersebut ditutup dengan epik. Diwarnai mimbar bebas dan pameran pada 29 Mei. Dilanjutkan dengan puisi, tari, dan diskusi terbuka refleksi reformasi pada akhir rangkaian, Sabtu (31/5/2025).

Salah satu yang banyak menyedot perhatian adalah pameran potret-potret, lukisan, dan temuan yang ada sukses menarik perhatian masyarakat, bahkan wisatawan mancanegara.

Salah satunya Ratna Eta Karin, wisatawan asal Solo yang mengunjungi balai pemuda untuk liburan. Ia yang awalnya menunggu kedatangan bus SCCT itu langsung terpanggil untuk masuk ke area pameran.

Karya-karya pameran yang berisi kasus-kasus reformasi seolah memanggilnya untuk datang dan menelusuri karya lainnya. Terlebih ia juga sempat merasakan kisruhnya era itu. “Waktu itu masih SD di Solo juga huru haranya cukup gede. Banyak rumah dibakar cukup ngeri,” ujarnya, Sabtu (31/5/2025).

“Sepertinya juga perlu penyelidikan lebih soal orang orang yang hilang dan Komnas HAM juga harus tindak lebih lagi,” tuturnya.

Lebih lengkap, Ketua Pelaksana Agung Samson mengatakan, alasan digelarnya acara guna memeringati 27 tahun reformasi sekaligus mengenang aktivis mahasiswa Unair Herman dan Bimo yang hingga kini keberadaan serta keadaanya tidak diketahui.

Tujuannya untuk mengingatkan masyarakat sekaligus kritik bahwa perjuangan menuju reformasi begitu berat. memerlukan cucuran darah keringat dan air mata serta berita kehilangan untuk keluarga para aktivis yang sampai hari ini tidak ditemukan.

“Pemilihan judul Interogasi Gelap untuk merawat ingatan gelap sejarah menuju reformasi,” ucapnya saat dikonfirmasi lewat whatsapp, Minggu (1/6/2025).

Menurutnya, sejarah reformasi masih menyisakan peristiwa kelam tentang penculikan, penghilangan paksa terhadap aktivis-aktivis yang tidak pernah tuntas meski berganti banyak rezim.

“Saat ini tidak ada keutuhan reformasi seperti yang diperjuangkan dulu banyak nilai-nilai yang kemudian kembali seperti pra reformasi seperti dwi fungsi ABRI,” pungkasnya. (hk/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.