Tuntut Kompensasi, Wali Murid Korban Peluru Nyasar Mengadu ke DPRD Gresik
SR, Gresik – Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menyatakan tengah menyiapkan surat resmi yang ditujukan kepada kesatuan TNI Angkatan Laut (AL) guna memastikan keamanan di sekitar area lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari sekolah.
Langkah ini diambil setelah Dewi Murniati, wali murid SMP Negeri 33 Gresik, mengadu perihal cidera fisik dan psikis yang ditanggung putranya, Darrell Fausta Hamdani (14), korban peluru nyasar yang diduga berasal dari fasilitas TNI AL itu. Peluru menembus lengan kiri korban hingga mengenai tulang dan bersarang di punggung tangan.
Insiden peluru nyasar itu terjadi pada 17 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB saat Darrell sedang mengikuti kegiatan di musala sekolah. Selain Darrell terdapat seorang siswa lain yang menjadi korban hingga mengalami luka di bagian punggung bawah. Kedua korban pun kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo.
Selain menuntut jaminan keselamatan, Syahrul menegaskan bahwa surat tersebut berisi desakan agar segera dilakukan upaya mediasi yang konkret antara pihak TNI AL dan keluarga korban. Ia berharap konflik ini segera tuntas agar tidak menimbulkan kecemasan berkepanjangan di masyarakat. “Kami tidak ingin anak didik kami menjadi korban selanjutnya,” tegas Syahrul pada Selasa (7/4/2026).
Terkait upaya mediasi, Dewi mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak sekolah dan Dinas Pendidikan yang dianggap lamban dalam mengawal kasus ini. Ia kecewa lantaran kompensasi yang diberikan TNI AL tidak sepadan dengan penderitaan fisik dan psikis korban.
Dikatakannya, pihak kesatuan memberi bantuan awal sebesar Rp 32 juta untuk perawatan rumah sakit Darrell. Namun TNI AL menghentikan bantuan di tengah jalan padahal Darrell masih memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk kontrol rutin serta terapi psikologi forensik.
“Memang pihak TNI AL sudah membantu biaya perawatan di rumah sakit Rp32 juta dan biaya kontrol satu kali. Padahal saat ini anak saya sudah kontrol ke rumah sakit enam kali. Jadi, kami menanggung biaya kontrol lima kali plus pemeriksaan psikologi forensik serta terapi psikologi forensic sebanyak dua kali, itu kami tanggung sendiri,” katanya.
Atas insiden peluru nyasar itu, Murni menuntut keadilan dan pertanggungjawaban agar menanggung penuh biaya pengobatan fisik dan psikis korban sampai sembuh. Ia juga berharap adanya tali asih sebagai kompensasi akibat dampak cacat terkena peluru yang akan ditanggung seumur hidup.
Di pihak lain, Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, Ahmad Fauzi, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman teknis untuk memastikan asal-usul proyektil tersebut. Ia juga membantah adanya intimidasi terhadap keluarga korban. (giy/red)
Tags: gresik, murid smp negeri, peluru nyasar, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





