Suporter Hujat Timnas Piala Asia U23 Hanya Perilaku Kerumunan Bersifat Sementara

Rudy Hartono - 9 May 2024
ilustrasi kekecewaan tim sepakbola saat kalah

SR, Surabaya – Kesebelasan sepakbola Indonesia sudah berjuang keras di Piala Asia U23, namun masih saja muncul hujatan oleh masayarakat ditujukan kepada wasit hingga pemain. Apalagi Masyarakat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah. Gejala ini menjadi perhatian guru besar sosiologi Universita Airlangga, Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi.

“Perilaku itu adalah godaan situasi kerumunan. Kalau orang menjadi penggemar, maka perilaku menghujat itu lebih merujuk pada perilaku sementara atau temporary,” cetus Prof Bagong dalam opini tertulis yang diterima redaksi Superradio.id, Rabu (8/5/2024).

Menurut Prof Bagong, para penggemar yang menghujat itu adalah bentuk perwujudan ekpresi mereka terhadap kekecewaan tim yang didukung. Penggemar juga merupakan sosok irasional.

“Sebagian bagian dari penggemar atau fans adalah sosok yang secara psikologis irasional. Mereka adalah orang-orang yang acapkali fanatik terhadap tim yang menjadi idolanya,” papar Bagong, “Sehingga ketika tim pujaannya menang, mereka sangat memuja. Dan ketika timnya kalah, mereka tak segan untuk menghujat,” imbuhnya.

Ke-irasional-an itu menyentuh taraf personal, hingga menyerang wasit hingga salah satu pemain. Hal itu merupakan perilaku kerumunan di mana merasa mewakili banyak orang, merasa bersama banyak orang, sehingga merasa punya kekuatan massa.

Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi 

Tak Berhubungan dengan Nilai dan Norma

Prof Bagong juga berpendapat bahwa hal tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan nilai dan norma masyarakat Indonesia. “Dalam beberapa momen tertentu, terutama pada piala Asia kemarin. Situasi perilaku kerumunan dapat memicu tindakan anarkis penggemar, sehingga mereka mewujudkan kekecewaannya melalui hujatan. Dan, di semua negara, perilaku penggemar yang fanatik sama.”

Para penggemar yang sadar dengan identitas sosialnya, kata Bagong, tidak mudah tergoda situasi kerumunan hingga berbuat anarkis seperti menghujat sana-sini. “Penggemar tidak selalu negatif, namun godaan situasi kerumunan bisa memicu tindakan anarkis. Maka dari itu, penggemar yang sadar atas identitas sosial biasanya tidak mudah tergoda berbuat anarkis,” ungkapnya.

Prof Bagong berpendapat bahwa kondisi itu tak perlu ada solusi, namun alangkah baiknya masyarakat untuk untuk bertindak secara rasional, mengontrol baik emosi mereka, sehingga tak terpengaruh situasi kerumunan. Sehingga tidak menyerang personal, entah itu wasit ataupun pemain timnas.

“Tekanan dalam perlombaan juga dapat mempengaruhi performa pemain, maka tak perlu berlebihan dalam menengekspresikan kekecewaan,” tegasnya.(*/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.