Stigma dan Mitos Hambat Proses Penyembuhan Pasien TBC
SR, Surabaya – Kasus tuberkulosis (TBC) hingga saat ini terus terjadi di Surabaya. Di kurun waktu 2022 saja, ada 10.741 kasus TBC yang ditemukan. Sedangkan dalam kurun waktu hingga Maret 2023 ada sekira 1691 kasus. TBC selain menular, penyakit ini juga sarat akan mitos-mitos yang tidak terbukti kebenarannya dan ironisnya mengakar kuat di masyarakat sehingga memunculkan stigma tertentu bagi pasien TBC.
Ketua Tim Kerja P2PM Dinkes Surabaya Yusli Aidil Putra Hasibuan mengatakan, TBC adalah jenis kuman atau jenis bakteri yang menular. TBC disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Jadi, jika TBC menyebar di antara anggota keluarga, kasusnya terjadi karena mereka tertular patogen tersebut.
Penyebaran bakteri Mycobacterium Tuberculosis biasanya terjadi melalui udara lewat droplet yang dikeluarkan oleh penderita TBC saat bersin, batuk, berbicara, bernyanyi, atau tertawa. “Dari hal ini mitos tentang TBC ditularkan atau menularkan kepada hewan, adalah hal yang tidak benar,” ujar Yusli.
Dengan adanya mitos yang berkembang di masyarakat, membuat penderita TBC masih tinggi. Hal ini semakin diperparah dengan sikap enggan dan untuk melakukan pengobatan. Padahal, di sisi lain, pasien suspek yang sadar mengalami gejala TBC enggan melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena mendapat stigma dan takut dicap buruk oleh lingkungan.
“Faktor inilah yang membuat Indonesia menjadi negara ketiga terbanyak di dunia untuk penderita TBC, setelah India dan China. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk memberantas TBC di Indonesia,” kata Yusli.
Hingga saat ini di kota Pahlawan, penderita TBC dari estimasi 11 ribu orang lebih, yang berhasil diobati mencapai 10 ribu penderita. Untuk berobat, pasien TBC tidak dipungut biaya sepersen pun, alias gratis. “Kami berharap, masyarakat yang menderita penyakit TBC bisa segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat, apalagi tidak dipungut biaya,” terang Yusli.
Sementara itu, dokter spesialis paru RSUD dr. Soetomo, Ariyani Permatasari mengatakan, penderita TBC, memerlukan pengobatan yang intens serta durasi yang cukup lama, karena harus meminum obat satu hari satu kali sesuai dengan jam yang ditentukan setiap hari, selama 6 bulan.
“Orang dengan penyakit TBC harus minum obat satu hari satu kali. Jika diminum jam 10 pagi, maka harus selalu jam 10 pagi setiap hari, selama 6 bulan,” pungkasnya. (*/red)
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





