Setahun Tragedi 13 Mei, Apa Kata Korban?

Yovie Wicaksono - 14 May 2019
Foto para korban meninggal dari peristiwa bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, pada 13 Mei 2018. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Bom bunuh diri yang menghancurkan tiga gereja di Surabaya, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuna, pada Minggu (13/5/2018), menyisakan duka serta trauma yang mendalam bagi para korban dan keluarganya.

Perwakilan dari Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Abigail Susana, mengatakan proses pemulihan jemaat GPPS dari peristiwa 13 Mei 2018 tidaklah mudah, bahkan hingga saat ini traumatis umat masih ada.

“Hingga saat ini traumatis umat itu masih ada, tapi kita terus berikan pendampingan, dan kita tetap imbau agar tetap ibadah, meskipun beberapa jemaat yang awalnya mengikuti misa pagi, berpindah misa pada sore hari,” ujar perempuan yang kerap disapa Susan ini.

Rohaniawan sekaligus Dosen Teologi ini menjelaskan, perpindahan waktu ibadah para jemaat ini bukanlah tanpa alasan., Peristiwa 13 Mei yang terjadi pada saat sedang berlangsungnya ibadah pada pagi hari, membuat para jemaat merasa lebih aman dan tidak terbayang peristiwa tersebut ketika melakukan ibadah di sore hari.

Susan mengatakan, solidarisme lintas iman, dan berbagai pihak yang membantu melakukan pemulihan, setelah kejadian tersebut membuat dirinya dan umat Kristen yang menjadi korban merasa tidak sendirian.

“Momen hari ini sebagai pengingat bahwa peristiwa itu membuat kita lebih kuat lagi, kita tidak merasa sendiri, dan banyak kawan dari lintas iman yang membantu pemulihan kami,” ujarnya.

Salah satu korban selamat di Gereja SMTB, Desmonda Paramartha mengaku membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk benar-benar pulih dari luka yang dialaminya. Orang-orang di sekelilingnya lah yang membuat dirinya kuat hingga saat ini.

“Yang menguatkan saya yaitu dorongan dari keluarga, Romo, dan teman-teman sekitar untuk bisa menerima dan memaafkan pelakunya, karena tidak cepat memaafkan dan menerima sama saja kita memberikan kesempatan pelaku untuk berbahagia, karena perbuatan mereka berjalan dengan lancar,” ujar perempuan yang saat kejadian itu mengalami luka di bagian kaki kanan, paha, betis, dan lehernya.

Desmonda berharap, kejadian tersebut tidak pernah terulang lagi. Hidup rukun dengan keberagaman yang ada, tanpa terkotak-kotakkan. Terlebih, karena Indonesia identik dengan keberagamannya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.