PTM Terbatas Dimulai, Adi Sutarwijono : Prokes Jangan Kendor!

Yovie Wicaksono - 7 September 2021
Ilustrasi. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh insan pendidikan di Kota Pahlawan atas kembalinya pembelajaran tatap muka (PTM).

Tak lupa, ia tetap mengingatkan tentang pentingnya menjadikan aspek kesehatan dan keselamatan sebagai pertimbangan utama.

“Tentu kita harapkan semua memenuhi prosedur. Saya yakin anak-anak kita sudah kangen sekolah. Sekali lagi selamat, tapi tetap prokes jangan kendor,” ujar Adi.

Seperti diketahui, PTM secara terbatas di Surabaya telah dimulai sejak Senin (6/9/2021), dan berdasarkan hasil asesmen Satgas Covid-19, ada 15 SMP Negeri dan swasta yang mulai menjalankan PTM tersebut.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam PTM terbatas. Pertama, penerapan protokol kesehatan secara ketat.

“Pemkot Surabaya sudah membentuk Satgas Pelajar, itu bagus. Tapi semua pihak harus terlibat, mulai orang tua hingga guru. Harus saling mengingatkan,” jelas Adi.

Kedua, monitoring dan evaluasi secara sungguh-sungguh serta konsisten. Bila ada sekolah yang lalai, perlu segera dievaluasi demi kepentingan utama, yaitu keselamatan semuanya.

“Semua yang terlibat di PTM harus disiplin. Jika ada sekolah lalai, misalnya tidak menerapkan jaga jarak dengan baik maka harus segera dievaluasi. Ini bukan sok disiplin, tapi demi keselamatan semua pihak,” ujar Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya itu.

Ketiga, lanjut Adi, ada pada penyiapan infrastruktur sekolah yang mampu mendukung penerapan PTM. Misalnya, sirkulasi udara dan sarana sanitasi.

Adi mengungkapkan, PTM sangat penting untuk menjaga akselerasi kualitas SDM di Surabaya. Sebab, pembelajaran jarak jauh diakui memang membuat hasil pembelajaran menjadi tidak optimal. Berbagai riset pendidikan juga menunjukkan hasil serupa.

“Bahkan bisa ada loss generation,’’ katanya.

Karena itu, dewan benar-benar akan mendukung PTM. Namun, semua aturan harus tegak. Kalau PTM teledor, ada klaster Covid-19 di sekolah, kemudian membuat kasus kembali naik, tentu imbasnya kembali ke sekolah. Yaitu, PTM diberhentikan kembali.

“Itu yang tidak kita inginkan, sehingga semua harus kompak dan disiplin,” pungkasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.