Petani Lulusan SD, Buat Obat Pembasmi Hama Alami

Yovie Wicaksono - 21 June 2019
Zaini (61) warga Lebak Tumpang, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, buat obat pembasmi hama alami. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Hanya mengenyam bangku Sekolah Dasar, Zaini (61) warga Lebak Tumpang, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, mampu berinovasi meracik sebuah cairan obat hayati pembasmi hama dengan bahan dasar tanaman sejenis sayuran kentang serta kedelai.

Zaini mengaku, kemampuannya untuk meracik cairan pembasmi hama pertanian itu,  ia peroleh setelah menimba ilmu selama tiga hari di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Sebagai petani, ilmu yang ia dapat tersebut sangatlah berarti karena bersinggungan langsung dengan pekerjaanya sehari-hari di sawah.

“Saya diajak oleh Dinas Pertanian, untuk dikirim belajar ke Universitas Brawijaya Malang selama tiga hari pada 2018. Meski durasinya sebentar hanya tiga hari, saya tetap bersyukur,” ujarnya kepada Super Radio, Jumat (21/6/2019).

Selepas menimba ilmu pertanian selama tiga hari disana, Zaini membuka usaha Home Industri di rumahnya. Kemudian ia memproduksi pengembangan pusat agen hayati, untuk obat  tanaman cairan pembasmi hama.

Cairan pembasmi hama ini bisa dipergunakan untuk mematikan hama semacam wereng hijau, walang sangit, wereng batang coklat, kutu kebul, aphid dan trips. Jika dibandingkan dengan obat pembasmi hama yang berbahan kimia, cairan obat hayati racikan Zaini lebih unggul dan dinilai lebih efisien.

Obat penanggulangan hama buatannya bersifat lebih mematikan karena bisa memberantas hama sejenis  wereng coklat, serta kutu kebul hingga sel telurnya. Setelah disemprot, reaksi cara kerja obat hayati baru terlihat tiga hari. Sementara untuk obat pemberantas hama berbahan kimia hanya bisa mematikan hamanya saja.

“Saya dikit-dikit mulai buat ini, dicoba lab hasilnya bagus. Uji labnya disana (Universitas Brawijaya Malang), akhirnya membuat sampai sekarang hingga 1,5 tahun,” ujarnya.

Tidak hanya memproduksi cairan pembasmi hama, Zaini juga mampu meracik obat berbahan alami untuk pertumbuhan sekaligus merangsang buah pada tanaman. Dalam waktu sebulan ia bisa memproduksi cairan hayati sebanyak 120 botol.

Zaini berkisah, latar belakang dirinya mau belajar untuk membuat obat berbahan hayati (alami) dikarenakan ketika tanaman sawah miliknya terserang hama.

“Awal mulanya saya dikasih saran sama Dinas Pertanian, asalnya kan lokasi sawah hampir tidak panen padi terserang hama wereng. Alhamdulillah adanya obat ini werengnya kok habis. Saya kok diuber-uber sama orang Dinas Pertanian, saya kan petani disuruh buat obat gimana caranya. Terus saya disekolahkan ke Universitas Brawijaya Malang tiga hari,” imbuhnya.

Zaini memasarkan obat hayatinya secara manual ke para petani tidak melalui sistem online. Meski demikian, pembelinya bukan hanya di seputaran petani lokal Kediri melainkan juga pembeli dari Ponorogo dan Jakarta.

Zaini mengatakan, metode pembuatan obat hayati pembasmi serangga yang berbahan ketela dan kedelai diperlukan  waktu maksimal 7 hari guna proses Fermentasi.

“Ya difermentasi selama satu minggu, bahan utamanya ada sendiri, campuran. Kedelai cuman diambil airnya saja setelah di rebus,” imbuh Zaini.

Oleh karena bahan yang digunakan alami, hal ini tidak membawa dampak pengaruh terhadap hasil produksi kualitas tanaman.

“Aman dikonsumsi, kan bahan nya alami, tandas pria lulusan Sekolah Dasar Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.