Pakar Lingkungan: Bediding, Penurunan Suhu Akibat Hilangnya Awan
SR, Surabaya – Cuaca dingin menusuk malam hingga pagi hari belakangan ini, yang juga dikenal dengan istilah mbediding. Wahid Dianbudiyanto ST MSc, pakar Teknik Lingkungan Unair, menjelaskan, fenomena ini sebagai penurunan suhu akibat hilangnya awan.
Di balik langit cerah dan suhu menipu, tersembunyi potensi gangguan bagi kesehatan dan lingkungan. “Permukaan bumi kehilangan panas karena tak ada awan yang menahan radiasi ke atmosfer,” kata Wahid, Rabu (16/7/2025).
Penyebab lain adalah angin muson timur dari Australia yang sedang mengalami musim dingin. Massa udara dingin masuk ke selatan Indonesia karena perbedaan tekanan antara Asia dan Australia.
“Inilah sebab suhu malam bisa turun hingga 17 derajat Celcius, lebih rendah di dataran tinggi,” ucapnya. Fenomena ini diperkirakan berlangsung hingga September, mengikuti puncak musim kemarau.
Meski tampak alami, Wahid mengingatkan bahwa perubahan iklim global bisa memperparah siklus mbediding. Dampaknya bisa meluas jika tidak diantisipasi sejak dini.
Penurunan suhu tak hanya menimbulkan rasa tak nyaman, tapi juga berdampak kesehatan. “Suhu dingin dapat memicu penyakit pernapasan seperti flu dan asma,” ujarnya.
Dalam sektor peternakan dan pertanian, suhu dingin bisa menurunkan produktivitas dan menyebabkan kematian ternak. Meski belum ada laporan signifikan, risikonya akan meningkat jika fenomena berlangsung lama.
Ia menegaskan pentingnya mewaspadai efek jangka pendek yang sering diabaikan masyarakat. “Bukan hanya tubuh menggigil, tapi juga daya tahan tubuh menurun,” katanya.
“Tak ada kebijakan khusus, namun edukasi publik perlu ditingkatkan untuk mitigasi awal,” kata Wahid. “Minimal, masyarakat perlu memantau cuaca, memakai pakaian hangat, dan menjaga pola makan.”
Fenomena mbediding bukan bencana, tapi bisa menjadi peringatan penting dari alam. Kesadaran terhadap kesiapsiagaan lingkungan menjadi hal yang sangat mendesak. (*/rri/red)
Tags: bediding, lingkungan, superradio.id, unair, wahid dianbudi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





