Musim Hujan, Serapan Getah Pinus Diprediksi Turun

Yovie Wicaksono - 27 October 2020
Sadap Getah Pinus. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Memasuki musim penghujan, diperkirakan  serapan getah pohon pinus Perhutani mengalami penurunan hingga 10 persen. Meski begitu Perhutani Kediri tetap optimistis jika target serapan getah sebanyak 9500 ton setahun dapat tercapai seperti halnya periode sebelumnya.

Wakil Administratur Perhutani Kediri, Beni Mukti mengatakan jika tahun sebelumnya target serapan getah terpenuhi hingga mencapai 100,01 persen.

Ia  menambahkan, saat ini ada sekitar 40 ribu hektar cakupan luas hutan pohon pinus Perhutani Kediri, termasuk wilayah Trenggalek, Tulungagung dan Nganjuk. Dari empat daerah tersebut, Trenggalek menjadi salah satu daerah paling produktif sebagai penyumbang serapan getah terbanyak.

“Untuk Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri lebih didominasi jenis pohon pinus. Kita ada dari 9 KPH, 8 yang punya sadapan getah pinus. Yakni Kediri, Tulunganggung, Trenggalek dan Nganjuk. Paling banyak penyumbang dari wilayah Trenggalek,” ujar Beny Mukti.

Lebih lanjut, Beny Mukti menjelaskan, jika selama ini  Perhutani Kediri memiliki cara jitu untuk meningkatkan hasil produksi serapan getah pohon pinus. Salah satunya yakni menyemprotkan cairan perangsang ke pohon.

“Di getah pakai cairan green one organik dan biji organik. Fungsinya merangsang agar pohon itu tetap membuka pori-pori, dari pohon ada hangat pori-pori tidak mudah tertutup pada saat setelah adanya pelukaan,” ujarnya.

Diakuinya, memasuki musim penghujan seperti sekarang, biasanya panen getah agak sedikit terlambat.  Tadinya 10 hari selama tiga kali pembaharuan harus panen, kini molor menjadi 12 sampai 13 hari.

Hasil panen menjadi molor dikarenakan dikala musim penghujan para petani yang bekerja sebagai penyadap getah ini lebih memprioritaskan untuk  mengurusi tanaman garapannya sendiri di sawah.

Beda halnya apabila musim kemarau tiba, mereka justru lebih condong untuk menggarap sadapan getah pohon pinus.

“Kalau produksi paling banyak di musim kemarau, karena mungkin didukung cuaca panas sehingga getah encer. Yang kedua karena pada saat panas masyarakat juga, kondisi pertanian karena pendapatan dari pertanian kurang, dia lebih banyak fokus ke sadapan. Pada musim penghujan ada tabrakan kepentingan, di satu sisi mereka punya sadapan getah di kawasan, satu sisi lainnya mereka punya garapan (sawah),” katanya.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, kebanyakan mereka menjadi pekerja sebagai petani  sadapan getah. Mereka melakukan itu karena untuk mencari rezeki tambahan selain profesinya sebagai petani sawah. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.