Mahasiswa Unair Rancang Inovasi Alternatif Penanganan Stroke

Yovie Wicaksono - 23 August 2021
Hasil Sintesis Membran PLLA-Kitosan Bersalut Heparin. Foto : (Humas Unair)

SR, Surabaya – Perubahan gaya hidup berupa peningkatan konsumsi makanan cepat saji dan penurunan aktivitas fisik selama pandemi Covid-19 menyebabkan meningkatnya penyakit kardiovaskular, yakni suatu kondisi di mana terdapat adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Salah satunya adalah stroke yang disebabkan oleh penyumbatan lemak di pembuluh darah, yang dikenal sebagai stroke iskemik.

Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2016, 67.5 juta orang pernah mengalami stroke iskemik dan 70 persen dari penderita stroke tersebut berasal dari negara berkembang. Di Indonesia, stroke adalah salah satu penyebab kematian tertinggi dengan faktor risiko tertinggi di Asia Tenggara sebesar 0.34 persen.

Prosedur Carotid Endarterectomy (CEA) merupakan salah satu prosedur pengangkatan lemak pada arteri yang dilakukan untuk mencegah stroke. Akan tetapi, pengangkatan lemak ini dapat menyebabkan penyempitan diameter dinding pembuluh darah. Oleh sebab itu, umumnya digunakan patch atau membran yang dikenal dengan nama patch angioplasty. Membran tersebut membantu menutup dan melebarkan diameter pembuluh darah untuk mengurangi resiko stroke lanjutan.

Namun, pada beberapa kasus penggunaan membran komersial saat ini dilaporkan terjadi infeksi, penyumbatan, pembesaran atau penonjolan pembuluh darah akibat melemahnya dinding pembuluh darah, dan gangguan vena. Hal ini terjadi karena bahan yang digunakan sebagai patch angioplasty kurang ideal. 

Apakah ada bahan lain yang bisa dijadikan alternatif? Tentu saja ada. Tim mahasiswa Unair yang berasal dari S1 Teknik Biomedis dan S1 Kedokteran yaitu Dhea Saphira Salsabila, Edric Hernando, Indira Maretta Hulu, dan Tarissa Dianda Putri Wibowo di bawah bimbingan Dr. Prihartini Widiyanti, mengusulkan suatu inovasi membran berupa scaffold nanofiber PLLA-Kitosan dengan modifikasi heparin melalui cross-linking dengan genipin pada permukaanya sebagai kandidat patch angioplasty.

Penggunaan scaffold berbahan PLLA digunakan karena memiliki sifat mekanik yang baik. Kemudian kami kombinasikan dengan kitosan untuk memperbaiki karakteristiknya yang sulit berinteraksi dengan air dan cukup rapuh. Selain itu, sifat anti bakteri pada kitosan dapat mengurangi kemungkinan infeksi. Selanjutnya, heparin digunakan untuk mencegah penggumpalan darah,” ujar Dhea, sebagai ketua kelompok tim tersebut.

Tim tersebut telah melakukan penelitian selama lima bulan di Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga secara luring. Hal ini disebabkan peralatan untuk pembuatan nanofiber, yaitu alat electrospinning dan perlatan pengujian hanya terdapat di laboratorium.

Menurut Indira, sebagai anggota tim, penelitian secara luring cukup rumit karena adanya kebijakan seperti Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang membuat tim harus memperhatikan protokol kesehatan yang ketat dan melakukan beberapa bagian penelitian dari rumah masing-masing.

Penelitian tersebut diikutserakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2021 dan mendapatkan pendanaan penelitian dari Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEK DIKTI).

Hasil penelitian berdasarkan serangkaian uji, seperti uji sudut kontak, uji degradasi, uji adsorpsi fibrinogen, uji anti koagulasi, dan uji sifat mekanik menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk aplikasi klinis pada jaringan vaskular.

“Penelitian ini berpotensi besar untuk penanganan kasus stroke yang saat ini prevelasinya semakin tinggi di Indonesia. Hasil studi in vitro dalam penelitian ini menunjukkan potensi untuk pengembangan aplikasi vaskular lainnya seperti alat stent dan pembuluh darah buatan (hollow fiber),” ujar Dokter Spesialis Bedah Saraf, Nur Setiawan Suroto yang turut mendukung penelitian ini. 

Harapan kedepannya, penelitian ini dapat mendukung Fokus Riset Material Maju pada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017-2045 oleh KEMENRISTEK DIKTI dan diimplementasikan dalam prosedur penanganan pasien stroke. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.