LBH Surabaya : Tuntaskan Kasus Munir

Yovie Wicaksono - 7 September 2019
Patung Munir di Omah Munir Foto : (Super Radio/ Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya meminta pemerintahan Jokowi untuk menuntaskan kasus pembunuhan Munir yang terjadi tepat 15 tahun yang lalu.

“Penuntasan kasus pembunuhan Munir menjadi PR besar bagi Negara. Hingga saat ini pun pemerintahan Jokowi akan memasuki dua periode pun penyelesaian kasus Munir juga masih mandek, meskipun salah satu janji Jokowi adalah menyelesaikan kasus Munir,” ujar Direktur LBH Surabaya, Abd. Wachid Habibullah pada Sabtu (7/9/2019).

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah untuk membuka dokumen-dokumen Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kepada publik sebagai komitmen penuntasan kasus Munir.

“Presiden SBY membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut hingga saat ini belum pernah diterbitkan ke publik. Dan dokumen TGPF pun diduga sengaja dihilangkan sehingga hingga saat ini proses hukum terhadap terduga pelaku tidak terselesaikan,” imbuhnya.

Wachid menambahkan, pembunuhan terhadap Munir juga menunjukkan betapa lemahnya peran negara dalam memberikan perlindungan terhadap pembela HAM. 

“Perlindungan oleh Negara terhadap Pembela HAM belum maksimal atau bahkan tidak ada sama sekali. Negara abai dalam memberikan perlindungan,” katanya.

Menurutnya, selain kekerasan atau ancaman fisik, pembela HAM juga seringkali dilaporkan ke polisi atau digugat secara perdata di pengadilan. 

Ia menambahkan, tren yang muncul belakangan, pembela HAM seringkali berhadapan dengan hukum. Ini yang dinamakan SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation). Dimana pembela HAM dikriminalisasi atau digugat secara perdata. 

“Instrumen hukum dijadikan alat untuk membungkam. LBH Surabaya banyak menangani kasus seperti ini, baik yang dialami buruh, petani, aktivis lingkungan, aktivis anti korupsi, dan lainnya. Maka kami meminta pemerintah membuat dan merumuskan kebijakan perlindungan pembela HAM,” tandasnya.

Sekedar informasi, pada 7 September 2004, Indonesia kehilangan salah seorang tokoh terbaiknya yang getol melakukan advokasi terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM, yakni Munir yang dibunuh dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan studinya ke Universitas Utrecht. 

Ia dibunuh dengan menggunakan racun arsenik yang ditaruh ke makanannya oleh Pollycarpus Budihari Priyanto. Sebelum pembunuhan, Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. 

Hari meninggalnya Munir hingga kini selalu diperingati oleh para pembela HAM. “Tidak saja untuk mengenang jasa-jasa Cak Munir, tetapi lebih jauh untuk selalu memupuk dan menumbuhkan semangat juang dan nilai-nilai yang dibangun oleh Cak Munir salah satunya dulu besar di LBH Surabaya dalam mendorong pemenuhan, perlindungan, dan penghormatan HAM. Sehingga Munir selalu ada dan berlipat ganda,” ujar Wachid. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.