Jamaah Syiah Sampang, 6 Tahun Berlebaran di Pengungsian

Yovie Wicaksono - 6 June 2019
Jamaah Syiah Sampang saling bersilaturahmi bersama para tetangga rusun, dan bercengkrama di halaman rusun. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Sidoarjo – Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu momen yang paling ditunggu umat Islam untuk berkumpul dan bersilaturahmi bersama keluarga besar di kampung halaman.

Namun hal tersebut tidak dapat dirasakan jamaah Syiah Sampang. Mereka tidak diperbolehkan kembali ke kampung halaman dengan alasan keamanan.

Rabu (5/6/2019), merupakan tahun ke-6 jamaah Syiah Sampang merayakan Hari Raya Idulfitri di pengungsian Rumah Susun (rusun) Jemundo, Puspa Agro, Sidoarjo.

Setelah salat ied bersama di Masjid Al Imam, jamaah Syiah Sampang saling bersilaturahmi bersama para tetangga rusun, dan bercengkrama di halaman rusun. Tak ada perayaan khusus yang mereka rayakan.

“Jelas beda ya Lebaran di kampung sama disini, kalau di kampung kan lebih tenang, tidak ada tekanan psikis. Sedangkan disini kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga besar, kami tidak menikmati itu,” ujar pemimpin Jamaah Syiah Sampang, Tajul Muluk kepada Super Radio.

Menurutnya, Idulfitri yang menjadi momen untuk mempererat silaturahmi, kini justru memutus silaturahmi.

“Disini kami ibarat tahanan kota, seperti bebas tapi terbelenggu,” imbuh Tajul Muluk.

Salah satu jamaah Syiah Sampang, Abdul Hadi mengatakan, sekedar untuk berziarah ke makam orang tua pun tidak bisa dilakukannya.

“Kita ingin ke kampung, silaturahmi, sama ziarah ke makam orang tua tidak bisa. Bisanya ya hanya kirim Alfatiha dari sini,” ujar pria asal Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang ini.

Sebelumnya, Tajul Muluk mengatakan, Bupati Sampang pada 2016 pernah menggelar halalbihalal dengan mendatangkan keluarga korban ke lokasi pengungsian, namun karena keterbatasan biaya dan tidak adanya lagi fasilitas yang diberikan pemerintah, hal tersebut tidak dapat mereka rasakan lagi.

“Halalbihalal 2016 itu menggambarkan bahwa masyarakat lapisan bawah itu merindukan kedamaian, silaturahmi yang terjalin baik. Harusnya kalau ini digaungkan terus, pasti akan membaik,” imbuh Tajul Muluk.

Mereka berharap, pemerintah melakukan mediasi kepada kedua belah pihak, hak para korban yang selama ini hilang, bisa kembali didapatkan.

“Relokasi bukanlah solusi terbaik, kami ingin adanya mediasi, yang selama ini belum terfasilitasi,” pungkasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.