Gerak Jalan Mojokerto-Suroboyo Tradisi Panjang yang Mengakar

Rudy Hartono - 15 December 2024
Aneka kostum dikenakan peserta Gerak Jalan Mojokerto-Suroboyo, mulai kostum kaos identitas kelompok atau lembaga hingga kostum perjuangan yang diikuti berbagai grup atau komunitas. Gerak jalan start  dari Lapangan Raden Wijaya Surodinawan, Kota Mojokerto dan finish di Tugu Pahlawan Surabaya. (net)

SR, Surabaya – Gerak jalan Mojokerto–Suroboyo atau yang sering disebut Mojosuro adalah salah satu tradisi olahraga dan kebudayaan khas Jawa Timur yang memiliki nilai sejarah mendalam. Kegiatan ini menggabungkan semangat kebugaran fisik dengan penghormatan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dilansir Instagram Jatimpemprov, Gerak Jalan Mojokerto-Suroboyo pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955. Gerak Jalan Mojokerto-Suroboyo bukan sekadar kegiatan biasa, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan yang pernah berjalan kaki dari Mojokerto ke Surabaya selama masa perjuangan melawan penjajah.

Pj Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono memberangkatkan peserta Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Suroboyo 2024 dari Lapangan Raden Wijaya Surodinawan Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Sabtu (14/12/2024). (net)

Jalur Mojokerto–Surabaya sendiri memiliki nilai historis karena menjadi rute strategis pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Diinisiasi oleh pemerintah daerah Jawa Timur, gerak jalan ini bertujuan untuk menanamkan semangat perjuangan dan persatuan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November. Gerak jalan Mojosuro menempuh jarak sekitar 55 kilometer, dimulai dari Alun-Alun Mojokerto sebagai titik awal, dan berakhir di Tugu Pahlawan Surabaya.

Peserta melewati beberapa titik penting seperti Krian, Sepanjang, dan Waru, yang juga merupakan kawasan bersejarah dalam perjalanan perjuangan bangsa. Kegiatan ini terbuka untuk berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, instansi pemerintah, hingga komunitas masyarakat umum.

Peserta Gerak Jalan Mojokerto-Suroboyo  menjelang finish di Surabaya, mereka menerobos gerimis melintas di depan Kebun Binatang Surabaya dan disambut oleh warga yang menonton, Sabtu (14/12/2024). (suarasurabaya.net)

Setiap tahunnya, ribuan peserta memadati jalur Mojokerto–Surabaya untuk ikut serta dalam tradisi ini. Tidak hanya para peserta, masyarakat setempat juga turut memeriahkan acara ini dengan memberikan dukungan di sepanjang rute.

Gerak jalan Mojosuro bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah simbol perjuangan, ketahanan, dan persatuan. Setiap langkah yang diambil oleh peserta menggambarkan semangat pantang menyerah para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta memperkenalkan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda.

Seiring perkembangan zaman, gerak jalan Mojosuro terus mengalami berbagai inovasi. Penyelenggara kini mengintegrasikan teknologi dalam proses pendaftaran, pemantauan peserta, dan dokumentasi acara. Namun, esensi tradisi ini tetap terjaga sebagai penghormatan terhadap nilai-nilai perjuangan bangsa.

Gerak jalan Mojokerto–Suroboyo bukan sekadar acara olahraga, tetapi juga sebuah warisan budaya yang terus hidup dalam masyarakat Jawa Timur. Dengan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap sejarah, tradisi ini diharapkan tetap lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat fisik, tetapi juga membangkitkan jiwa nasionalisme dalam setiap langkahnya. Mojosuro adalah bukti bahwa sejarah dan olahraga dapat berpadu untuk melestarikan semangat perjuangan bangsa.  (*/rri/red)

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.