Cara Komunitas Roode Brug Soerabaia Kembali Hidupkan Sejarah

Yovie Wicaksono - 14 March 2022
Roode Brug Soerabaia dalam Parade Juang, peringatan Hari Pahlawan. Foto: (Romeo Pattia)

SR, Surabaya – Keberadaan sejarah dalam kehidupan manusia sangatlah penting, khususnya bagi sebuah bangsa. Sejarah bisa menjadi pengingat, penyemangat, hingga pemersatu bangsa.

Sejarawan dunia Herodotus mengatakan bahwa “Sejarah adalah Guru Kehidupan”, sementara itu presiden pertama Republik Indonesia Soekarno secara tegas mengatakan “jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah” atau Jas Merah.

Sayangnya, selama ini sejarah lebih sering hanya hidup dalam buku saja, tak sedikit juga generasi muda yang menganggap belajar sejarah adalah hal yang membosankan. Lalu bagaimana kalau menghidupkan sejarah dalam dunia nyata dan menyenangkan? Hal inilah yang dilakukan Komunitas Roode Brug Soerabaia.

Komunitas yang didirikan pada November 2010 oleh beberapa arek Surabaya, diantaranya Ady Setyawan, Ibnu Hazmin, Rifkhi , Indra dan Bagus ini bergerak di bidang kesejarahan.

“Nama Roode Brug Soerabaia sendiri diambil dari bahasa Belanda yang artinya Jembatan Merah,” ujar perwakilan dari Komunitas Roode Brug Soerabaia, Satrio Sudarso kepada Super Radio.

Alasan dipilihnya nama Jembatan Merah karena tempat tersebut menjadi salah satu ikon khas kota Surabaya. Selain itu sebagai harapan agar komunitas ini dapat menjembatani kisah antara generasi terdahulu dengan generasi saat ini.

Kegiatan komunitas ini diantaranya melakukan kegiatan reka ulang atau reenactment dan teatrikal yang dilakukan rutin sebulan sekali di museum 10 November Surabaya dan dilakukan tiap satu tahun sekali pada peringatan 10 November yang diberi nama Parade Juang.

“Sejak awal pandemi kegiatan rutin di Tugu Pahlawan terhenti, tapi mulai tahun kemarin diadakan lagi pementasan teatrikalnya dan Insya Allah mulai tahun ini tepatnya bulan depan kita dipercaya untuk kembali tampil lagi dengan konsep yang lebih disesuaikan,” ujar pria yang telah bergabung dalam komunitas ini sejak akhir 2012 itu.

Ada juga kegiatan yang dilakukan secara daring seperti cangkrukan sejarah yang membahas tema-tema sejarah. Lalu juga melakukan wisata sejarah, blusukan ke tempat-tempat bersejarah di Kota Pahlawan. Kemudian pembuatan film dokumenter dan penelitian hingga menerbitkan buku.

Komunitas Roode Brug Soerabaia memiliki perpustakaan kecil dengan koleksi buku-buku kuno di Museum 10 November Surabaya. Komunitas ini juga bekerja sama dengan organisasi nonprofit di Belanda yang selalu menyediakan terjemahan koran atau artikel berbahasa Belanda.

Komunitas ini telah memiliki ribuan pengikut di sosial media mulai dari Facebook dan Instagram. Namun anggota komunitas yang aktif di tiap kegiatan ada sekira 30-50 orang dengan beragam latar belakang profesi, usia, maupun pendidikan.

“Jumlah anggotanya bersifat terbuka, artinya tidak ada jumlah pasti. Warga yang ingin bergabung cukup datang ke acara yang kami selenggarakan,” imbuh Satrio.

Kedepan, Satrio berharap, Komunitas Roode Brug Soerabaia bisa bekerjasama dengan berbagai pihak khususnya komunitas sejarah yang ada di Jawa Timur, dan melakukan napak tilas di tempat-tempat bersejarah bukan hanya di Surabaya saja tapi juga jejak-jejak perjuangan di kota atau kabupaten lainnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.