BPOM Surabaya Intensifkan Pengawasan Pangan Jelang Natal dan Tahun Baru

Rudy Hartono - 3 October 2025
Kepala BBPOM Surabaya Yudi Noviandi saat melakukan monitoring evaluasi pengawasan obat dan makanan di Surabaya, Selasa (2/12/2025). (sumber: infokom jatim)

SR, Surabaya — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya memperketat pengawasan terhadap produk pangan dan obat-obatan. Langkah ini dipimpin langsung oleh Kepala BBPOM Surabaya, Yudi Noviandi, guna menjamin keamanan produk di tengah meningkatnya aktivitas belanja masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Yudi dalam kegiatan Monitoring Evaluasi Pengawasan Obat dan Makanan di Surabaya, Selasa (2/12/2025).

Yudi Noviandi menegaskan, intensifikasi pengawasan akan difokuskan pada produk pangan olahan, makanan kemasan, hingga minuman yang banyak dijual di supermarket, toko modern, dan toko kelontong. Pengawasan ini juga menyasar produk-produk yang sering dijual dengan harga spesial atau diskon, terutama yang masa kedaluwarsanya mendekati batas.

“Kami memastikan produk yang dijual memiliki izin edar, kemasan baik, dan tidak kedaluwarsa. Seringkali produk mendekati batas kedaluwarsa dijual dengan potongan harga, sehingga kami ingin menjamin masyarakat tetap memperoleh produk aman,” ujar Yudi.

Kolaborasi Lintas Sektor

Untuk efektivitas di lapangan, BBPOM Surabaya menggandeng Dinas Perdagangan, Dinas Kesehatan, hingga dinas UMKM kabupaten/kota. Tim gabungan ini akan turun langsung melakukan pemeriksaan di berbagai titik peredaran pangan pada minggu ketiga Desember hingga akhir tahun 2025.

“Jika ada temuan pelanggaran, hasilnya akan direkap bersama temuan nasional dan dirilis langsung oleh Kepala Badan POM di Jakarta,” jelas Yudi.

Selain pangan olahan, BBPOM Surabaya juga menyoroti tingginya peredaran produk obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat (BKO). Temuan terbanyak berasal dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan sekitarnya. Produk-produk yang seharusnya berupa jamu atau obat tradisional ini ditemukan mengandung zat kimia berbahaya yang dilarang penggunaannya.

“Ini menjadi perhatian serius kami. Bahkan pada Oktober lalu kami telah memusnahkan lebih dari Rp10 miliar produk ilegal tersebut, sebanyak 11 truk hasil temuan di lapangan. Selain obat bahan alam mengandung BKO, kami juga menemukan sejumlah kosmetik berbahaya,” ungkapnya.

Partisipasi Pengawasan Masyarakat

BBPOM Surabaya juga mencatat adanya sarana produksi dan distribusi UMKM yang belum memenuhi ketentuan, terutama terkait penerapan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPB), sanitasi lingkungan, serta kelengkapan izin. Kebersihan pekerja, peralatan, dan kondisi gedung masih menjadi catatan penting yang harus diperbaiki.

Meski begitu, Yudi Noviandi memberikan apresiasi kepada sejumlah pemerintah kabupaten/kota yang dinilai aktif dalam pengawasan, pendampingan UMKM, serta fasilitasi keamanan pangan — termasuk melalui program sekolah, desa, dan pasar aman.

“Harapan kami, daerah-daerah yang telah menunjukkan komitmen kuat ini dapat menjadi teladan bagi kabupaten/kota lain. Pengawasan pangan membutuhkan kerja bersama, karena sekolah, desa, dan pasar merupakan pusat peredaran berbagai produk pangan,” tegas Yudi.

Dengan langkah intensif tersebut, BBPOM Surabaya mengimbau masyarakat untuk tetap cermat saat berbelanja kebutuhan Nataru dengan selalu memeriksa izin edar, kondisi kemasan, dan masa kedaluwarsa demi memastikan keamanan pangan bagi keluarga.  (*/red)

 

Tags: , , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.