Asosiasi Komunitas Sungai Indonesia Desak Wings Tanggung Jawab atas Sampah Sachet

Yovie Wicaksono - 26 November 2022

SR, Surabaya – Para pegiat lingkungan dari berbagai kampus di Surabaya, Sidoarjo, dan Malang yang tergabung dalam Asosiasi Komunitas Sungai Indonesia (AKSI) menggelar teatrikal bertajuk “SACHET WINGS BENCANA UNTUK MASA DEPAN” dengan membawa patung Dewi Sri yang terbungkus sachet di depan Kantor Wings Surabaya, Jumat (25/11/2022).

Koordinator Aksi, Rikat L. Sofyan mengatakan, kegiatan yang diikuti sekira 20 anggota tersebut bertujuan untuk meminta tanggung jawab perusahaan Wings atas sampah sachet yang tercecer di lingkungan perairan Indonesia yang berpotensi tidak dapat terurai bahkan sampai ribuan tahun.

Ia menjelaskan, ada 8 tuntutan yang mereka perjuangkan. Diantaranya, mendesak produsen Wings Group segera merancang dokumen peta jalan pengurangan sampah plastik sesuai regulasi di Permen LHK Nomor 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah, menetapkan target dan roadmap yang jelas, hingga upaya pencegahan kontaminasi bahan kimia beracun dan pembersihan sampah sachet.

“Hasil brand audit di Jawa Timur menunjukan banyaknya sampah jenis sachet (Multilayer) yang sulit untuk di daur ulang. Kemasan sachet menyusun 16% sampah plastik yang tercecer di perairan Indonesia,” ujar mahasiswa sejarah Universitas Negeri Malang itu.

Ia mengungkapkan, aksi ini berawal dari rasa keprihatinan atas hasil Brand Audit yang dilakukan selama 2022 di 8 Kab/Kota se-Jatim. Dimana, Wings Group menjadi Top Polluters sampah plastik dan sachet di Jawa Timur.

“Hasil audit di Bangkalan, Magetan, Tulungagung, Gresik, Jember, Malang, Kediri dan Sidoarjo diperoleh hasil 5 Top Polluters di Jawa Timur yaitu Wings (523 piece sampah), Unilever (330 piece sampah), Indofood (307 piece sampah), Mayora (209 piece sampah) dan Ajinomoto (183 piece sampah),” ucapnya.

Jika limbah sachet ini tidak ditangani, lanjutnya, maka akan memberikan dampak aspek lingkungan dan kesehatan. Salah satunya yaitu sachet terpecah menjadi mikroplastik. 

Peneliti sejarah pencemaran sungai Indonesia, Wahyu Prahardana menyebut, temuan itu menunjukan kurangnya keseriusan dari para produsen salah satunya Wings Group dalam hal pertanggungjawaban serta kepatuhan terhadap pasal 15 UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, yang menjelaskan kewajiban setiap produsen atas sampah yang dihasilkan melalui upaya Extended Producer Responsibility (EPR).

Padahal, telah banyak penelitian terkait bahaya mikroplastik pada makhluk hidup. Penelitian lainnya dari Universitas Hull dan Laporan The Guardian menjelaskan, terdapat mikroplastik di jaringan paru-paru dan darah manusia. Serta ditemukan kandungan mikroplastik di feses manusia.

“Wings sebagai perusahaan FMCG di Indonesia perlu memelopori inisiatif pengurangan sampah secara masif dan progresif. Selain sebagai produsen penghasil sachet, Wings dapat menghentikan tsunami sampah dan sachet di Indonesia dengan cara meredesain ulang kemasan plastik dan menyediakan sistem refill,” ujarnya. (*/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.