Anak Disabilitas Perlu Sentuhan Khusus saat Belajar di Rumah

Yovie Wicaksono - 22 May 2020
Salah satu atlet sedang menggambar secara digital seusai Pelantikan Kelulusan Unified E-Drawing Book Special Olympics Indonesia Pengda Jatim di Gedung BK3S Jatim, Surabaya, Minggu (19/1/2020). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Penerapan proses belajar mengajar di rumah guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), menimbulkan berbagai kendala. Mulai dari orang tua, guru, bahkan siswa. Terlebih bagi proses belajar mengajar anak disabilitas.

Seorang guru sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surabaya, Isnawati mengatakan, proses belajar di rumah membuatnya tak bisa lagi memberikan sentuhan untuk muridnya. Dimana untuk anak disabilitas, proses tatap muka dan sentuhan itu sangatlah penting.

“Belajar di rumah bagi anak-anak, orang tua, maupun guru itu menyulitkan. Terlebih disabilitas itu berbeda-beda. Murid saya disabilitas cerebral palsy dan ada autisnya. Cara kita berkomunikasi, maupun untuk menenangkan dia saat emosi ya melalui sentuhan. Kebetulan saya dan murid saya sama-sama perempuan,” ujar perempuan yang sudah menjadi guru SLB sejak tahun 1986 ini.

Tak jarang Isnawati mendapatkan keluhan dari orang tua muridnya, terkait emosi sang anak yang sulit diredam.

“Dia emosinya tidak stabil, tapi setelah saya pegang dua tahun ini sudah membaik. Kalau marah, saya usap punggungnya dia jadi tenang. Tapi sekarang tidak bisa lagi,” ujarnya.

Ia juga mengaku rindu  terhadap muridnya karena lama tak bertemu. Untuk mengobati rindunya, Isnawati melakukan video call maupun telepon dengan muridnya. Namun ternyata hal tersebut menimbulkan sebuah masalah baru, dimana muridnya justru membanting handphone tersebut ketika komunikasi berakhir.

“Orang tuanya sudah habis handphone dua karena dibanting. Dia tidak mau video call nya dimatikan, jadi maunya komunikasi terus. Mungkin karena dia kangen. Akhirnya orang tuanya bilang nggak usah video call anaknya lagi. Alternatifnya sekarang mengirimkan video satu arah ke murid saya dan itukan bisa diputar berulang kali kapanpun dia mau,” katanya.

Isnawati mengatakan, sejauh ini ia mengirimkan paket pembelajaran melalui video satu arahnya. Ia berharap, agar bisa segera kembali melakukan belajar mengajar di sekolah.

“Ya sebenarnya kalau boleh sih inginnya kita tetap belajar di sekolah, tapi tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Setelah jeda sekian bulan ini, kemudian saat kembali ke sekolah tentu kita harus mengulang dari awal. Bagaimana mengatur kembali emosi anak-anak dan lainnya,” katanya.

Guru sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surabaya, Isnawati (kanan) dan Abdul Syakur (kiri). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Sementara itu, salah satu orang tua murid dari YPAC Surabaya, Siti Fatimah mengatakan, proses pendampingan anak saat belajar di rumah memerlukan kesabaran dan ketelatenan tinggi.

“Mendamping dalam mengerjakan tugas gak cukup satu jam saja. Jadi harus super telaten mendampingi,” ujarnya.

Ibu rumah tangga yang kesehariannya berjualan gorengan dan mengasuh bayi ini mengatakan jika anaknya seringkali menanyakan kapan ia bisa kembali ke sekolah.

“Dia sering tanya masuk sekolah kapan. Dia kalau sama temannya itu WhatsApp sendiri, terkadang dia cerita lihat instagram guru dan temannya. Terkadang dia baca dari  grup wali murid ada kabar apa tentang sekolah, karena dia banyak keingintahuannya. Walaupun dia bacanya ada yang bisa atau pun ada yang masih mengeja. Kalau dia gak tau, dia tanya,” katanya.

“Harapan saya semoga wabah ini segera berakhir. Semua kembali seperti semula,” imbuhnya.

Ketua Umum Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Provinsi Jawa Timur, Pinky Saptandari mengatakan perlunya mempersiapkan segala hal untuk menyambut anak-anak saat kembali ke sekolah.

“Sekolah harus menyiapkan diri secara kelembagaan untuk menyambut kembali mereka saat masuk sekolah dengan perangkat teknisnya untuk kebersihan, kesehatan, dan fasilitas yang lain,” ujarnya.

Kemudian disatu sisi orang tua juga harus menyiapkan diri agar anak-anak bisa kembali bersekolah tapi tetap aman secara kesehatan. Yaitu dengan memberikan bekal makanan yang sehat dan bergizi, hand sanitizer, sarung tangan, dan tisu basah.

“Itu adalah cara kita menyiapkan anak-anak kembali ke sekolah karena kehidupan harus tetap berjalan walaupun tidak normal lagi, tetapi dengan normal baru,” katanya.

“Karena untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus, ini memang harus lebih diperhatikan lagi karena kalau berbicara target SDGs itu kan mengatakan tidak ada satupun orang yang boleh tertinggal. Kalaupun mereka berkebutuhan khusus, mereka tidak boleh tertinggal juga dalam pendidikannya,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.